UANG, seks, dan kekuasaan bagikan three in one. Wangi, menggairahkan, dan mengabulkan banyak impian. Ketiga unsur itu bisa bersekutu, dan publik pun gempar, seperti pernah dilukiskan oleh Richard J. Foster dalam buku berjudul “Uang, Seks, dan Kekuasaan” (1995).

Uang bisa mempengaruhi kebijakan sebuah partai politik dan sikap anggota parlemen. Dapat meraih posisi penting di pentas birokrasi. Sebaliknya, seks bisa meraup uang, dan menjadi senjata untuk menjatuhkan dan menaikkan  seseorang.

Uang dan seks pun bisa meraih kekuasaan. Adapun kekuasaan memungkinkan mengumpulkan uang dan memesan seks semudah menatap langit. Makanya ada istilah power tend to corrupt, saudara sepupu dengan abused of power.

Istilah “tiga ta” bangkit lagi, yakni takhta, harta dan wanita. Dalam berbagai kasus besar, unsur Tiga Ta itu telah terpenuhi. Pernah dua anggota DPR dari dua partai terbesar dengan kursi terbanyak di parlemen tersandung Tiga Ta itu. Sebagai wakil rakyat, ia punya gaji dan berbagai fasilitas dan tunjangan lumayan.

Syahdan, dengan posisi yang merengkuh “dua ta” yakni tahta dan harta, entah mengapa selalu merasa kurang “lengkap” jika tidak diimbuhi dengan Ta terakhir atawa wanita. Ada yang bernama other woman atau other man.

Uniknya, virus ini dapat diidap siapapun dan apapun profesinya. Bisa seorang presiden, seperti Clinton dan sebagainya. Jika polisi bisa membuktikannya, inilah yang membuat langkah Ketua (nonaktif) KPK, Antasari Azhar tersandung, seperti ditulis media massa.

Kadang kita terperangah mendengar seorang pengayuh becak beristri dua atau tiga, padahal hidupnya Senin-Kemis. Jangan anggp enteng, ia punya Ta pertama, yakni “kekuasaan” patriarkis meski bukan dalam makna “takhta” yang dimiliki oleh seorang raja, presiden, menteri, para pejabat, anggota parlemen, pengacara kaya atau pebisnis sukses.

Masih ingat film “Fatal Attraction” pada 1980-an yang dibintangi  oleh Michael Douglas dan Glen Close itu? Mulanya, killing time saja. Tapi si perempuan, walau tahu si pria sudah beranak berbini terus mengejar-ngejarnya, sehingga terjadilah fatal attraction.

***

Lelaki berselingkuh bisa karena sekedar variasi dan refreshing, atau tersebab witing trisno jalaran ora ono wong liyo. Cinta tumbuh karena sering bersama. Ada cinta lokasi ada pula cinta teman sekantor dan sebagainya.

Jika wanita berselingkuh tak selalu demi duit. Boleh jadi karena ingin meraih penghargaan kepada dirinya, atau untuk mendapatkan perhatian. Misalnya, oh aku masih bisa, ya. Paling menonjol tersebab balas dendam jika pernah ditinggal suami atau kekasih. Bisa saja karena alasan uang. Atau karena jatuh cinta kepada orang yang salah, yakni pria yang sudah berkeluarga. Bisa juga lantaran kesepian, atau karena pergaulan.

Tampaknya ini adalah wilayah psikologi. Memang, kaum pria berusia 40 tahun ke atas, biasanya stabil dalam karier dan duit. Nah, di usia stabil tadi, lelaki tak jarang berprinsip ia ingin menikmati hidup. Apalagi sudah menjadi anggota parlemen, eksekutif muda di perusahaan bisnis, atau apa sajalah.

Jika diamat-amati ada yang hobi dengan dugem (dunia gemerlapan di malam hari), bermain golf, jarang pulang ke rumah, selingkuh, dan sebagainya. Mungkin, karena masyarakat masih sungkan secara terbuka berpoligami, tapi di sisi lain ingin menikmati hidup, maka kemungkinan besar terjadilah perselingkuhan.

Pria cenderung menggemari sex affair, tapi wanita cenderung love affair. Jika sudah terjadi ikatan emosional, akan berlanjut ke hubungan seksual. Begitulah manusia, selalu mungkin menyediakan ruang dan waktu untuk bisa jatuh cinta lagi. Gawatnya, selingkuh tak pernah direncanakan. Tiba-tiba sudah terjadi begitu saja, dan sukar untuk surut ke belakang.

Selingkuh itu urusan kemauan. Jika Anda dikelilingi perempuan secantik Miss Universe, tapi kalau Anda dan dia to say no, selingkuh tidak akan pernah terjadi. Kuncinya adalah puasa kehendak. Ingat anak yang lagi lucu-lucunya di rumah. Timbang berbagai risiko dan tidak larut dengan kenikmatan sesaat.

Apabila sudah telanjur, maka di tengah masa-masa yang asyik mashuk itu, si wanita terdorong butuh kejelasan status. Ia ingin dinikahi. Sudah kodrati ia ingin punya turunan. Apalagi saling cinta sudah bersemi.

***

Dari angle kekuasaan, uang dan seks pun bisa bersenyawa. Awalnya, seseorang berjuang merebut kekuasaan. Setelah berhasil, biasanya akan disusul oleh sukses secara ekonomi atawa harta, yang meski relatif. Kemudian disusul “wanita” sehingga lengkaplah rumus Tri-Ta, tahta, harta dan wanita di babak akhir.

Pada awalnya, seseorang mungkin sesuci embun pagi, walaupun sangat relatif. Banyak tokoh bangsa di berbagai Negara yang mulanya dikenal sebagai tokoh dan pejuang, tapi belakangan terlibat korupsi, menjadi diktator dan dihujat oleh zaman.

Memeluk kekuasaan dan uang, rupanya bisa fatal attraction. Power yang bersenyawa dengan uang telah menumbuhkan karma di saat Anda kehilangan keseimbangan. Lalu, melakukan perbuatan tercela, entah korupsi dan sejenis, justru ketika masih banyak anak bangsa yang miskin dan dicekam pengangguran.

Para pemangku politik dan ekonomi yang sukses sudah seyogianya dipantau dengan system yang transparan dan akuntabel. Hamba hukum tak boleh bertemu terdakwa dan pengacaranya kecuali dalam proses hukum resmi. Dilarang lobi di lapangan golf, hotel dan kafe, termasuk antara anggota DPR dan pejabat pemerintahan.

Memang selingkuh cewek atau proyek sulit memantaunya karena bermain di pojok yang eksklusif. Padahal, jabatan yang diemban bukan masalah individual. Apa urusannya jika seorang pejabat publik bersunyi-sunyi dengan seorang perempuan, yang bukan anak istri padahal gaji dan fasilitasnya berasal dari dana publik?

Perselingkuhan pejabat publik bukan urusan personal. Tetapi ranah ekonomi-politik, dan menjadi urusan Negara. Seyogianya seleksi para pejabat publik wajib mendeteksi keseimbangan kepribadian seorang kandidat. Apakah moralnya setangguh batu karang, atau gampang meleleh melihat tumpukan uang dan sosok-sosok yang bening? (*)

Dirangkum dr berbagai sumber & hati nurani. Dipersembahkan utk ramaikan momen Pilkada Kabupaten Mojokerto.