Wed 24 Oct 2007
Temuan Pagar Pusat Kerajaan Majapahit di Dusun Nglinguk, Trowulan
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: Mojopahitan , BeritaGali Lubang Sampah, Temukan Pagar dan Dua Pusaka Tombak
Sejarah Kerajaan Majapahit tampaknya tidak sepi dari peninggalan-peninggalan di masa kejayaan. Setelah sebelumnya puluhan bangunan candi ditemukan di wilayah Trowulan, kali ini kembali ditemukan sebuah bangunan yang diyakini sebagai pagar pusat kerajaan majapahit. Bagaiman bentuknya?
Peninggalan masa kejayaan Kerajaan Majapahit di Trowulan memang tak pernah sepi. Di Dusun Nglinguk Desa Trowulan Kecamatan Trowulan warga kembali dikejutkan dengan temuan bangunan yang menyerupai pagar. Bangunan itu ditemukan pertama kali oleh Kendek, 45, warga setempat di pekarangan kosong tepat di belakang rumah milik Agus Basuni seorang pegawai PLN Mojokerto, sewaktu melakukan penggalian tanah untuk urug bangunan rumah.
Di kedalaman sekitar 2,5 meter tampak terlihat bentuk bangunan pagar yang terbuat dari batu bata yang tertata setinggi 1 meter dan lebarnya 1 meter.
Setelah dilakukan pennggalian lebih dalam ternyata bentuknya belum dapat dilihat hanya saja mirip dengan pagar kolam segaran. Hal itu dibuktikan oleh tim BPPP (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Jawa Timur yang berada di Trowulan dengan menambah galian sebanyak lima titik. Hasilnya tim BPPP menemukan rentetan bangunan yang sama dari temuan pertama. Sehingga sampai sekarang dapat dilihat beberapa titik lubang tambahan yang berada di belakang rumah Agus.
Selain menemukan bangunan, Kendek juga menemukan dua pusaka yang berbentuk tombak dalam galian tersebut. Kendek sendiri mengatakan, temuan itu berawal saat dirinya sedang menggali tanah Pada pertengahan bulan puasa kemarin. hanya saja dia baru melaporkan kepada BPPP lima hari setelah penemuan.
“Semula saya kira itu tumpukan batu bata biasa, ternyata saat digali lebih dalam bentuknya cukup panjang,” ujar sepupu Agus itu. Dalam galian pertama itu, dia juga dikejutkan dengan dua buah benda yang menyerupai pusaka tombak terpendam di atas bangunan pagar yang bercampur dengan pecahan lempuyang. Hanya saja dia belum mengetahui dua benda yang ditemukannya berfungsi sebagai apa. “Bentuknya mirip tombak, tapi fungsinya untuk apa saya tidak tahu,” lanjutnya. Tidak lama setelah temuan tersebut warga banyak menduga bahwa bangunan tersebut adalah pagar pusat kerajaan Majapahit yang diperkirakan berbentuk persegi dan panjangnya sekitar 10 x 10 kilometer. Abdul Manaf salah satu warga yang mengantar Radar Mojokerto sewaktu melihat temuan tersebut mengatakan, sampai saat ini belum diketahui bagaimana bentuknya. Baik BPPP maupun warga yang pernah datang melihat meyakini bahwa bangunan tersebut adalah pagar yang berfungsi sebagai pembatas Kerajaan Majapahit yang umurnya sudah ribuan tahun. Bila melihat galian tanah sedalam 2,3 meter, lanjut Manaf panggilan akrab Abdul Manaf bangunan itu terkubur dari lima bentuk lapisan tanah yang berbeda. “Mungkin itu (bangunan,red) terkibur saat pertama kali Gunung Semeru meletus,” ujar pria yang bekerja sebagai security BPPP tiga sejak tahun 1981 itu.
Sementara bila dihubungkan dengan temuan bangunan yang sama sebelumnya di desa Petemon Trowulan yang berjarak tiga kilometer dari titik temuan pagar bentuknya sangat merip bahkan motif dan model tekstur bangunan terdapat anak tangga.
“Kalau terus digali ke arah Timur mungkin pagar itu sampai ke Desa Petemon yang sebelumnya sudah ditemukan warga,” kata bapak empat anak itu. Sementara ke arah barat pagar tersebut memiliki batasan di Dusun Bendo Rangkeng Desa Tanggul Rejo Kecamatan Mojoagung atau sekitar tujuh kilometer dari Desa Trowulan.
Lebih jauh dia menceritakan bangunan tersebut digambarkan sebagai pembatas Ibu Kota Majapahit menyusul dua pintu masuk wilayah kerajaan yang sudah di sebelah Timur dan Utara yaitu Candi Bajang Ratu dan di Desa Kraton Trowulan dan Candi Ringin Lawang di Desa Jatipasar Trowulan yang masing-masing memilik jarak sekitar 10 KM dari Desa Trowulan. Lantas di tengah pagar tersebut terdapat bangunan Candi Kedaton atau Sumur Upas yang disebut-sebut sebagai titik pusat Kerajaan Majapahit.
“Selama ini disebut-sebut sebagai pusat kerajaan adalah Candi Kedaton. Dan bila dihitung secara matematis candi tersebut dikelilingi pagar,” terangnya.
Untuk mengetahaui persis dimana apa bentuknya dan dimana letak batas-batas pagar tersebut, BPPP akan melakukan penggalian bersama tim dari balai Arkeologi Jogjakarta yang direncanakan bulan depan.
“Sebelumnya kami sudah menggalinya selama tujuh hari. Namun untuk mengetahu secara pasti bentuk bangunan bersama balai Arkeologi paling cepat bulan depan akan kita lanjutkan penggalian,” kata Aris Sofyan salah satu tim BPPP.
Keperluan arsip dari Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)






