Oleh: Anam Anis*
Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan besar yang terbukti telah mempersatukan Nusantara dengan semangat Sumpah Amukti Palapa Gajah Mada sebagai spiritnya yang diharapkan mampu menjadi salah satu simbol integrasi bangsa.

Kerajaan Majapahit sebagai simbol integrasi bangsa juga tidak terlepas dari slogan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan produk kultural yang menjadi salah satu spirit berdirinya bangsa Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika yang menurut Kitab Negarakrtagama karya Mpu Prapanca sebenarnya dipakai untuk melukiskan kerukunan beragama pada masyarakat Majapahit pada masa itu. Dengan potensi kultural tersebut sebenarnya kawasan Majapahit merupakan ruang pembelajaran yang tak pernah kering bagi proses berbangsa dan bernegara.

Telah banyak nilai-nilai kultural yang bisa dipelajari di sana, baik itu kerukunan beragama dan pluralisme, integrasi Nusantara, hingga filosofi tata ruang kota kerajaan yang merupakan cermin kepekaan lokal Kerajaan Majapahit dalam mengelola sumber daya perkotaan dengan kebijakan teknologi yang rasional dan aplikatif.

Dengan hal-hal itulah spirit Sumpah Palapa, Bhinneka Tunggal Ika dan teknologi dengan kebijakan lokal, yang sebenarnya bila dijadikan pondasi kultural masyarakat Indonesia dapat menjadi ikatan kultural yang sangat efektif disamping slogan nasionalisme.

Situs Trowulan sebagai kawasan Ibu Kota Majapahit merupakan satu-satunya situs perkotaan masa klasiks di Indonesia. Berdasarkan hasil foto udara yang dilakukan oleh Tim Bakosurtanal pada tahun 1981, dapat ditunjukkan situs Trowulan sebagai kota berparit, dimana dengan didukung bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa di Trowulan terdapat jalur-jalur memanjang berupa kanal-kanal kuno yang lebar dan panjang serta tampak bahwa kanal-kanal tersebut memotong simetris perkotaan Majapahit.

Disamping itu dari berbagai penelitian sejak tahun 1926 menunjukkan bahwa di daerah Trowulan dan sekitarnya terdapat 18 waduk besar dan kecil dilengkapi sejumlah saluran-saluran irigasi yang lebar maupun yang sempit.

Kanal-kanal yang melintasi wilayah Majapahit memiliki lebar antara 20-40 meter, memberikan gambaran suatu kota yang tertata dengan menempatkan bangunan-bangunan pada kawasan-kawasan tertentu. Penataan kawasan yang tampaknya terencana ini memungkinkan Majapahit sebagai pusat pemerintahan.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli selama ini, terutama mengenai penelitian tentang keberadaan kanal dan sistem jaringannya di Ibu Kota Majapahit dapat petunjuk adanya kanal-kanal yang berpotongan saling tegak lurus.

Hal ini memberikan gambaran bahwa Kota Majapahit dikembangkan dan berkembang atas dasar pola papan catur (grid pattern), yang terbentuk oleh kanal-kanal yang relatif lurus dan berpotongan tegak lurus serta membujur utara-selatan dan barat-timur.

Hubungan antara bujur kanal-kanal terhadap sumbu utara-selatan magnet bumi, bila diamati secara seksama maka dapat diketahui arah kanal-kanal tersebut tidak tepat sejajar dengan utara magnet bumi.

Hal ini berarti ada kemungkinan penataan kanal-kanal lebih berorientasi pada kondisi fisik geologis dan geografis setempat dari pada simbolis magnet bumi. Selain itu ada indikasi bahwa kanal-kanal itu lebih digunakan untuk mengatasi kondisi fisik alam setempat.

Kerapatan grit kanal-kanal, pada peta terlihat bahwa di bagian barat, mulai dari kanal utara-selatan yang pertama terdapat pola grit kanal yang relatif rapat dan berkembang ke arah barat dibandingkan pada bagian timur.

Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar pada daerah yang grit kanalnya relatif rapat merupakan kawasan yang padat, seperti pemukiman, pusat kota serta istana raja.

Kanal-kanal yang panjang pada perta tersebut juga ditemukan tanda yang menarik, yakni berupa kanal terpanjang timur-barat yang lurus dan menusuk bagian tengah pusat sistem kanal, yang kemudian dipotong dengan kanal terpanjang utara-selatan. Tanda persilangan kanal terpanjang ini menarik untuk diamati dan dapat digunakan untuk menjelaskan adanya hubungan aktivitas sosio-budaya yang erat antara kawasan barat, kawasan timur, kawasan selatan, kawasan utara dengan kawasan pusat Ibu Kota Majapahit.

Hubungan kanal dengan jaringan jalan darat, yang menarik adalah jaringan jalan darat yang ada pada masa sekarang ternyata ada kesejajaran dengan pola kanal Majapahit.

Bila saja tidak ada jalan baru buatan Belanda yang berasal dari Jombang menuju Surabaya, melintas di tengah situs Trowulan, maka tentu akan dapat terlihat jaringan jalan darat yang terdapat pada masa kini relatif cocok dengan pola grit kanal Kota Majapahit. Jadi kemungkinan ada jalan darat yang terletak disisi atau tepi-tepi kanal yang sengaja dibangunan sejajar dengan kanal.

Keberadaan kanal di Ibu Kota Majapahit sangatlah penting, karena selain berfungsi sebagai sarana transportasi dan pengairan, juga berfungsi sebagai pertahanan. Sebutan kanal di dalam Kitab Negarakrtagama adalah “parit” (pintu Barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas bersabuk parit).

Istilah parit disini diartikan sama dengan kanal (ungkapan bersabuk parit, dapat diartikan adanya parit yang lebih dari satu). Memanglah sebutan dalam Negarakrtagama cukup singkat, seperti halnya menyebutkan tembok bata hanya singkat, namun kenyataannya di lapangan sisa-sisa tembok bata sangat luas ditemukan.

Nampaknya jaringan kanal-kanal kuno di situs Trowulan tersebut telah dibangun sejak masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada. Hal ini dapat disimpulkan dari adanya uraian dalam Negarakrtagama yang ditulis oleh Rakawi Prapanca pada tanggal 30 September 1365.

Pada masa itu Kerajaan Majapahit dalam puncak kejayaan dan zaman keemasan serta menguasai wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaka. Kehidupan masyarakatnya digambarkan “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo”, adil dan aman dalam kerangka pemikiran dan perbuatan.

Kondisi ini sangat bertolakbelakang dengan keadaan negara dan bangsa Indonesia pada saat sekarang ini yang mengalami kemunduran dan keterpurukan ekonomi sebagai akibat dari krisis kepemimpinan dan wabah korupsi. (*)

*)Penulis adalah Kelompok Peduli Mojopahit “Gotrah Wilwatikta” Mojokerto-Jawa Timur.

Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)