Oleh: Anam Anis*
LATAR belakang sejarah perjalanan bangsa sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia dapat dilihat melalui catatan perjalanan kebudayaan dan peradaban bangsa. Terhitung sejak abad keempat, Nusantara Raya ini sudah mengenal peradaban dengan ditemukannya Prasasti Kutai di aliran Sungai Mahakam Kalimantan Timur yang dibuat oleh raja Mulawarman.

Disusul kemudian pada abad kelima, berdiri kerajaan di tanah Jawa, tepatnya di Jawa Barat dengan rajanya yang bernama Tarumanegara. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan melalui prasasti-prasasti Citarum- Bogor dan parasasti-prasasti lainnya.

Setelah kedua kerajaan tersebut kehilangan berita, kemudian secara mengejutkan ditemukan prasasti-prasasti di Sumatera bertarikh abad ke VII, yang memberitakan tentang kebesaran Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Setelah itu, ditemukan pula prasasti-prasasti bertarikh awal abad ke delapan di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Seperti Prasasti Kalasan di Desa Kalasan timur Kota Yogyakarta berangka tahun 778 M, Prasasti Raja Belitung (terkenal dengan sebutan Prasasti Kedu) berangka tahun 907 M. Orasasti Dinoyo di daerah Malang berangka tahun 960 M.

Di Jawa Timur banyak ditemukan prasasti berangka tahun 929 M yang menerangkan tentang munculnya Dinasti “Isana” dengan rajanya yang pertama bernama Mpu Sindok, bergelar Sri Isanawikrama. Dari prasasti ini kita kenal beberapa nama yang cukup populer seperti Darmawangsa, Mahendradatta yang kawin dengan Raja Bali yang bergelar Udayana, kemudian mempunyai anak salah satunya bergelar Airlangga.

Kala itu telah terjadi peristiwa bersejarah yaitu adanya pembagian dua kerajaan, yakni Kerajaan Jenggala dan Kadiri atas bantuan Mpu Bharada.

Dari beberapa prasasti tersebut diatas, kiranya dapat kita ketahui bahwa beberapa kali kerajaan satu dengan lainnya mungkin saja pada saat itu saling berebut kekuasaan, dimana kerajaan yang menang kemudian membukukan kekuasaan dengan menuliskan prasasti tentang kebesaran kerajaannya masing-masing.

Namun demikian dalam catatan kekuasaan kerajaan-kerajaan pada saat itu belum mencakup seluruh daerah Nusantara. Sampai akhirnya pada abad XIII-XV muncullah kerajaan besar di wilayah Nusantara yang berpusat tanah Jawa, yakni Kerajaan Majapahit.

Majapahit sebagai kerajaan besar, tidak dapat dipisahkan dari faktor kebudayaan yang telah dibangunnya, sehingga menjadi identitas dan lambang kebanggaan bagi masyarakat.

Kebudayaan zaman Majapahit mempunyai ciri tersendiri sebagai hasil akulturasi antara unsur-unsur budaya asli yang disebut budaya lokal, Hindu, Bhuda dan Islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan Majapahit sebagai karya budaya yang sukses mengantar bangsa dan negara ke puncak kejayaan pada abad XIV.

Hal ini dikarenakan kebudayaannya mengandung nilai yang luhur, sehingga tidak mustahil nilai-nilai tersebut masih ada dalam kehidupan masyarakat sekarang.

Budaya disebut sebagai hasil usaha kelompok manusia atau bangsa dalam menghadapi tantangan lingkungan dan pengalaman sejarah. Dengan demikian setiap bangsa mengalami sejarahnya sebagai unsur yang ikut membentuk kebudayaan.

Maka sudah sewajarnya pula, bila sebagai bangsa dan dalam rangka pengembangan kebudayaan, kita menghargai sejarah kita dengan usaha pelestarian terhadap peninggalan sejarah tersebut.

Salah satu usaha pelestarian dalam hal ini adalah membangun kembali (rekonstruksi) dengan menggunakan sejauh mungkin reruntuhan yang ditinggalkan serta mengamankannya bila sulit dibangun kembali. Karena pelestarian itu menyangkut benda sejarah, maka usahanya tidak boleh menyalahi keadaan di masa sejarah bersangkutan.

Situs Trowulan yang selama ini dinilai cocok dengan sebutan-sebutan dalam naskah lama, berita asing maupun cerita rakyat yang menghubungkan kepada inti Kerajaan Majapahit, telah banyak memberikan gambaran atau tanda-tanda masa kejayaan sebuah kerajaan besar.

Hal tersebut didapatkan dari berbagai hasil survei dan penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli selama ini di areal lahan seluas 10×10km, di wilayah Trowulan dan sekitarnya. Satu persatu telah ditemukan sisa-sisa bangunan, seperti sejumlah tembok tebal, pondasi bangunan serta waduk-waduk di sekitar Kolam Segaran bila dihubungkan dengan Kakawin Negarakrtagama yang memberikan uraian mengenai kompleks keraton Majapahit maupun kronik (catatan) dari China karya Ma Huan, semakin memperkuat asumsi dasar tentang keberadaan sebuah kota sekaligus pusat Kerajaan Majapahit yang memiliki kekuasaan hingga Semenanjung Malaka.

Kakawin Negarakrtagama merupakan sumber tertulis yang penting untuk mengetahui gambaran Kota Majapahit pada sekitar tahun 1365 M. Kota Majapahit di Trowulan pada masa itu menjadi pusat pemerintahan negara dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada hingga mencapai puncak kejayaan.

Pigeaud dalam kajiannya terhadap Negarakrtagama menyatakan, bahwa Majapahit memiliki dua kompleks perumahan (compound) utama dan puri (manor) utama. Kompleks perumahan sebelah barat merupakan kompleks kerajaan yang ditinggali oleh keluarga Hayam Wuruk, sedangkan kompleks disebelah timur ditinggali oleh keluarga raja Wengker-Daha.

Dua buah bangunan puri terletak disebelah utara dari kedua kompleks pemukiman utama tersebut. Puri dibagian baratlaut ditinggali oleh pejabat menteri dari Daha, sedangkan puri disebelah timurlaut oleh pejabat menteri Majapahit.

Dua puri lainnya terdapat di selatan barat laut didiami oleh pendeta Budha. Selain enam kompleks utama (dua kompleks perumahan dan empat puri), terdapat pula banyak bangunan puri sebagai tempat tinggal pejabat dan bangsawan di pinggiran kompleks besar tersebut.

Penelitian Kota Majapahit hingga kini masih terus berlanjut. Pusat Penelitian Arkeologi melakukan penelitian sejak tahun 1976, dengan tujuan penelitian untuk merekonstruksi Kota Majapahit dengan segala aspeknya.

Selain lembaga tersebut, beberapa lembaga lainnya turut pula melakukan penelitian interdisiplin. Secara keseluruhan lokasi-lokasi di situs Trowulan yang telah dilakukan ekskavasi adalah sektor Pendopo Agung, Sentonorejo, Blenden, kejagan, Kolam Segaran, Balong Bunder, Klinterejo, Nglinguk, Siti Inggil dan Wringin Lawang.

Selain itu telah pula dilakukan interpretasi foto udara dan survei sistematis untuk mengetahui tata ruang kota Mojopahit dan batas-batasnya. (*)

*)Penulis adalah Koordinator Kelompok Peduli Majapahit “Gotrah Wilwatikta” Mojokerto-Jawa Timur.

Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)