Sun 25 May 2008
Spenza Primavista Orchestra, Satu-satunya Orkestra Pelajar di Mojokerto
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: SeniBelajar Instan, Peralatan Masih Swadaya Siswa
Masih berbalut pakaian jin biru dan atasan putih, para anggota Spenza Primavista Orchestra mampu memadukan komposisi nada dengan apik. Gemanya mengalun tertiup angin di sela-sela penampilan kali kedua mereka pada acara peresmian Tugu UKS di Jl Surodinawan, Kota Mojokerto kemarin.
Tanpa dikomando, seorang gadis berpakaian biru-putih maju di depan rekan-rekannya. Dialah komponis Spenza Primavista Orchestra. Ia memberikan aba-aba. Tidak lama berselang, sebuah alunan Musik Tangga Nada in C pun mengalun membuat para hadirin terpukau.
Ini yang istimewa pada acara peresmian tugu UKS kemarin. Belum sempat hadirin terhenyak dari tempat duduknya, orkestra ini menyambung dengan lagu keduanya. Yakni, Bermain. Lagu disusul dengan Nyiur Hijau yang berkisah tentang keindahan alam Indonesia nan hijau.
Tidak hanya piawai dalam lagu-lagu bertemakan nasionalisme, Spenza Primavista Orchestra pun membawakan lagu yang cukup populer dinyanyikan Gita Gutawa, Sempurna. Aplaus penonton pun bergema, apalagi ketika Spenza Primavista Orchestra membawakan dengan manis lagu yang menjadi soundtrack film terlaris Ayat-Ayat Cinta dengan judul lagu yang sama.
“Mereka baru latihan selama dua bulan. Ini cukup instan untuk kegiatan seperti ini,” kata Khusnul, pembina Spenza Primavista Orchestra.
Spenza Primavista Orchestra dibentuk awal tahun 2008 ini. Sejarah pembentukannya pun tergolong tergesa-gesa, yakni untuk memenuhi standar kebutuhan sebagai Sekolah Berstandar Internasional (SBI) di SMPN 1 Kota Mojokerto. “Ternyata, antusiasme peserta cukup tinggi,” kata Khusnul.
Saat ini, lanjut Khusnul, jumlah anggota Spenza Primavista Orchestra mencapai 40 anak. Mereka terdiri atas pemegang bas satu anak, drum dan gitar masing-masing satu anak, vokal dua anak, keyboard tiga anak dan sisanya 30 anak memegang alat musik biola.
“Khusus untuk biola ini, anak-anak membeli secara swadana, karena memang tidak ada dana untuk itu. Sedangkan alat-alat lainnya merupakan inventaris sekolah,” jelasnya.
Inilah yang membuat kegiatan Spenza Primavista Orchestra yang masuk dalam kegiatan ektrakurikuler, menjadi terbatas peminatnya. Karena untuk membeli satu biola saja bisa membutuhkan anggaran Rp 800 ribu. “Sehingga, mereka yang ikut kegiatan ekstrakurikuler ini kebanyakan dari anak orang mampu,” ungkapnya.
Mungkin karena sudah mengeluarkan biaya mahal inilah, anak-anak justru semakin semangat berlatih. Dalam seminggu ada dua hari yang dijadwalkan berlatih. “Kita ambil waktu sore, selepas anak-anak pulang sekolah. Latihannya antara 2-3 jam,” ujarnya.
Selain mampu, para anggota Spenza Primavista Orchestra mendapatkan dukungan penuh pihak keluarga. Kharisma misalnya, pemegang alat musik biola, mengaku peran orang tua untuk mengembangkan seni cukup tinggi. Bahkan, kemarin kedua orang tuanya ikut menyaksikan penampilan perdananya di depan khalayak umum. “Didukung keluarga,” katanya singkat.
Bagi pihak sekolah sendiri, Spenza Primavista Orchestra mampu memberikan harapan yang lebih baik. “Sebagai orkestra pelajar pertama yang ada, tentu banyak kendala yang dihadapi,” ungkap Khusnul. Spenza Primavista Orchestra kali pertama tampil di kandang sendiri, pada sebuah acara SMPN 1. Baru penampilan kali kedua ini dilakukan di depan umum, yakni di hadapan wali kota dan Ketua Tim Pembina UKS Pusat Widaninggar Wijayanti.
Sumber : Khoirul Inayah, Mojokerto (Radar Mojokerto)






