Tue 13 Nov 2007
Sebelah timur Kolam Segaran yang diprediksi menjadi istana kerajaan Majapahit.
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: BeritaLetak Ibu Kota Alami Tiga Kali Perpindahan
DALAM rangka mempersiapkan rekonstruksi Kerajaan Majapahit, maka terlebih dahulu haruslah dilakukan penelitian untuk mengetahui di mana letak ibu kota Kerajaan Majapahit yang memiliki masa kehidupan atau perjalanan selama kurang lebih 200 tahun itu. Dari kajian sejarah, berdasarkan data arkeologis serta sumber-sumber lainnya tampak mulai dari masa pemerintahan Raden Wijaya sampai dengan Dyah Rana Wijaya (1293-1519 M). Mengenai letak ibu kota telah tiga kali mengalami perpindahan. Termasuk pula letak istana dan kraton ikut pindah.
Pertama, pada masa pemerintahan R Wijaya, letak ibu kota Majapahit berada di sebuah Delta dari sebuah bengawan yang membujur dari timur ke barat dan bertemu dengan sebuah sungai yang berasal dari selatan. Istananya menghadap ke utara atau menghadap bengawan. Letak istana tersebut tidak jauh dari pelabuhan Canggu.
Kedua, masa pemerintahan Jayanegara sampai dengan Bhre Krtabhumi (1305-1478 M). Letak ibu kota Majapahit berada di Trowulan dan sekitarnya. Yang kini masuk wilayah administrasi Kabupaten Mojokerto dan Jombang.
Ketiga, masa pemerintahan Bhre Hyang Purwawisesa sampai dengan Dyah Rana Wijaya (Dinasti Girindrawardhana) (1478-1519 M), letak ibu kota Kerajaan Majapahit berada di wilayah Kediri.
Dari hasil penelitian para ahli purbakala di tiga tempat tersebut di atas, ternyata bukti-bukti peninggalannya yang paling banyak ditemukan adalah di wilayah Trowulan dan sekitarnya. Karena itulah daerah Trowulan dikategorikan sebagai daerah situs Trowulan. Yaitu, lokasi yang diduga banyak mengandung benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit, baik yang berada di atas tanah maupun di dalam tanah.
Adapun kerajaan ibukota Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Jayanegara hingga Bhre Krtabhumi di situs Trowulan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama, letak istana Raja Jayanegara diduga berada di Dusun Kraton, Desa Dinuk, tepatnya di sebelah utara gapura Bajang Ratu. Setelah Jayanegara wafat, 12 tahun kemudian istananya diubah menjadi tempat pendharmaan. Diduga gapura Bajang Ratu adalah pintu masuk tempat pendharmaan Raja Jayanegara.
Kedua, letak istana Ratu Tribuanatunggadewi sampai dengan Raja hayam Wuruk, diduga berada di Dusun Unggah-unggahan (sebelah timur kolam Segaran) Desa Trowulan. Para ahli purbakala atau arkeolog yang pernah melakukan penelitian di situs Trowulan dengan mengambil titik sentral di Kolam Segaran, ternyata bahwa temuan benda purbakala di sekitar kolam segaran sangat banyak.
Hasil penelitian tersebut akhirnya disimpulkan bahwa pusat ibu kota Kerajaan Majapahit adalah terletak di sekitar kolam Segaran. Hal ini diperkuat dengan hasil penggalian yang dilakukan oleh Maclaine Pont yang mendasarkan pada uraian kakawin Negarakertagama, ternyata letak kraton (bangunan utama kerajaan berupa istana raja Hayam Wuruk, balai Manguntur dan balai agung) berada kurang lebih 100 meter di sebelah timur Kolam Segaran.
Ketiga, letak istana Raja Wikramawardhana sampai dengan Bhre Krtabhumi, diduga berada di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo. Tinggalan di situs Kedaton ini tampak beragam, seperti ditemukannya struktur batu bata dengan membentuk petak-petak ubin bata yang berbentuk octagonal, lubang sumur yang sekarang ditutup batu hitam.
Sumur tersebut oleh masyarakat sekitar disebut Sumur Upas. Terdapat pula situs Kedaton berupa lorong berbentuk L. Konon tempat ini adalah sebagai tempat samadi Prabhu Brawijaya.
Uraian tentang letak ibu kota Kerajaan Majapahit semenjak masa Raden Wijaya hingga masa Dyah rana Wijaya serta letak istana-istana raja pada masa pemerintahan Raja Jayanegara hingga Bhre Krtabhumi seperti tersebut di atas. Kiranya dapat menjadi bahan kajian lebih dalam untuk melakukan rekonstruksi ibu kota Kerajaan Majapahit.
Oleh karena rekonstruksi bertujuan untuk melindungi dan melestarikan benda cagar budaya atau peninggalan purbakala zaman Kerajaan Majapahit, maka perlu ada pilihan lokasi yang mana perlu direkonstruksi. Hal ini tentu terkait dengan pemanfaatannya di masa-masa sekarang maupun mendatang.
Kelompok Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Mojokerto-Jatim pada saat setelah melakukan kajian di atas telah memilih untuk menyiapkan rekontruksi pusat ibu kota Kerajaan Majapahit yang berorientasi pada masa pemerintahan Tribuana Tunggadewi dan raja Hayam Wuruk yang istana kerajaannya berada di sebelah timur Kolam Segaran.
Hal ini berdasarkan pertimbangam karena pada masa tersebut Kerajaan Majapahit sangat berpengaruh di Asia Tenggara.
Bukti-bukti sejarah menunjukkan, bahwa Kerajaan Majapahit dibawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada telah mencapai puncak kejayaan dan zaman keemasan. Salah satu karya monumentalnya adalah disatukannya seluruh Nusantara termasuk Semenanjung Malaka dibawah kekuasaan Majapahit.
Perjalanan sejarah Majapahit merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman tentang kebesaran Majapahit akan menumbuhkan semangat juang, kepercayaan diri dan memperkokoh identitas bangsa yang besar di tengah pergaulan dunia. Majapahit mempunyai makna yang penting bagi Indonesia. Beberapa simbol kenegaraan telah mengadopsi dari Majapahit, di antaranya Bhineka Tunggal Ika, Sumpah Palapa dan lain-lain.
Dengan konsep rekonstruksi tersebut di atas, diharapkan dapat menjunjung tinggi karya agung leluhur bangsa, baik dari sisi dimensi fisik maupun dimensi metafisiknya. Perlu langkah-langkah strategis dan praktis untuk menyikapi kondisi yang ada. Karena situs Majapahit memiliki daya tarik yang luar biasa jika bisa dikelola dengan baik dan benar.
Mengapa kita tidak memperlakukan situs ibu kota Majapahit sebagai aset nasional? Sedangkan ada pepatah yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para leluhurnya. (*)
Sumber : Anam Anis (Radar Mojokerto - Jawa Pos)







July 22nd, 2008 at 10:10 am
Jikalau letak Ibu kota Majapahit di Trowulan sewaktu pemerintahan Hayam Wuruk di Trowulan kok diutara kota tidak ada tebing sungai ya?
menurut Negara kertagama di utara kota ada lapangan Bubat yang sisi utaranya berbatasan dengan tebing sungai.
Jika kita ke Trowulan kemudian ke utara, candi Brahu ke utara lagi, kok gak ada sungai ya?kecuali sungai kecil.
Hayam wuruk sering ke lapangan Bubat dengan ditandu, tentunya tidak jauh, kecuali kalau memakai kereta.
Menurut saya paling tepat di Mojokerto, di mana disisi utaranya ada sungai Brantas.
masalah peninggalan tentunya karena bekas kraton dsb tergusur oleh orang yang menempati berikutnya.
Ini hanya opini orang awam