Mon 5 Nov 2007
Rencana merekonstruksi keraton pusat Kota Kerajaan Majapahit tampaknya bakal terwujud. Itu setelah Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso dan timnya datang ke Trowulan untuk meninjau ulang sekaligus meneguhkan kembali kepeduliannya terhadap situs-situs peninggalan ini, kemarin. Luluk kembali mendatangi Trowulan guna memantapkan rencana rekontruksi Kota Majapahit, selain mencari lokasi keraton, hal yang paling utama adalah mengungkap keberadaan Majapahit.
“Dalam rekonstruksi nanti kami akan melibatkan semua elemen-elemen penting yang peduli dengan Majapahit. Dan yang lebih penting adalah dukungan dari warga masyarakat, agar tidak mempersulit upaya pelaksanaan nanti,” ujar Luluk ketika menyampaikan presentasi rekonstruksi di BP3 (Balai Peninggalan Pelestarian Purbakala) Jawa Timur di Trowulan.
Untuk memastikan lokasinya, Luluk dan kawan-kawan dalam waktu dekat selain mendatangkan alat georadar, mereka juga melibatkan ahli gambar, ahli geologi dan arkeologi. Seperti geolog dari Bandung, Sidarwono dan peneliti arkeologi Nurhadi Rangkuti.
Dengan dibantu alat georadar, para ahli akan mendeteksi pondasi-pondasi keraton yang selama ini tertanam dalam tanah yang diperkirakan sedalam 2,5 meter. “Upaya pencarian keraton sebagai titik kota kerajaan bukanlah hal yang mudah. Karena itu kita dengan dukungan dan pemikiran para ahli, yang menjadi fokus utama kita adalah mencari pondasi-pondasi atau kanal-kanal komplek Majapahit,” lanjut Luluk.
Menurutnya, tim rekonstruksi Kota Majapahit nanti mula-mula akan difokuskan pada situs kedaton yaitu di Situs Umpak-umpak, Candi Sumur Upas dan Candi Kedaton di Desa Sentonorejo Trowulan. Hal itu dipilih karena sampai saat ini belum diketahui bagaimana bentuk keraton Majapahit yang asli.
“Kendalanya sampai saat ini kita belum memilik bentuk sketsa keraton, hanya saja menurut beberapa para ahli pusat keraton berada di sekitar desa Sentonorejo,” tukas Luluk. Untuk sekadar menggambarkan, tim rekonstruksi sudah menyiapkan bentuk relief serta gambar dan sketsa kota Majapahit yang dirangkai sebagai acuan sementara.
Selain ditemani Kepala Balai Peninggalan Pelestarian Purbakala (BP3) Made Kusumadjaja, rombongan yang juga dihadiri Mahmoed Zain (mantan Bupati Mojokerto), RM Boedhi (anggota DPRD Kabupaten Mojokerto) dan para pemerhati Kerajaan Majapahit
Juga meninjau ke beberapa candi antara lain Candi Brahu, Candi Gentong, Candi Segaran, Candi Kedaton, Sumur Upas dan Situs Umpak-umpak Sentonorejo.
Sementara itu, geolog asal Bandung, Sudarwono mengungkapkan alat georadar saat ini sudah siap digunakan dalam waktu dekat. Hanya saja sebagai bahan dasar dalam mencari pondasi dan kanal kerajaan pihaknya perlu mempelajari kembali hasil penelusuran tim rekonstruksi. “Hasil penelusuran tim rekonstruksi dapat menjadi dasar untuk mencari pondasi. Namun tidak serta-merta kita gunakan karena harus dilakukan survei dulu,” katanya.
Ahli arkeologi, Nurhadi Rangkuti juga menyebutkan, selama ini pihaknya sudah mempelajari bentuk struktur bangunan candi dan artefak (terakota) yang ada di sekitar Trowulan.
“Dengan melihat bentuk bangunan situs atau candi yang ada tampaknya saling berhubungan antara satu sama lain. dari dasar tersebut sepertinya bisa dijadikan acuan dalam rekonstruksi,” ujarnya.
Kepala BP3 Trowulan, Made Kusumadjaja kemarin juga menunjukkan konsep pengembangan situs Kerajaan Majapahit. Konsep bertajuk Majapahit Park itu sudah diajukan kepada Menbudpar Jero Wacik beberapa waktu lalu. Konsep itu lebih berorientasi ke arah pengembangan pariwisata. Bahkan, pemerintah pusat kabarnya sudah menyetujui dan menyiapkan anggarannya. Hanya, realisasinya hingga kini belum ada. “Tinggal bagaimana menggabungkan konsep rekonstruksi dan mencari lokasi yang akan dijadikan wahana Majapahit Park,” jelas Made.
Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)




