Sat 7 Feb 2009
perempuan berkalung sorban: awas virus baru yang membahayakan ahlak!
Diposting oleh: nuzulul Kategori: Sosialperempuan berkalung sorban.
sebuah film yang saat ini begitu digandrungi, khususnya kaum muda. sebuah tamparan keras atas realita kehidupan beragama (Islam) di indonesia. dimana dengan mengatasnamakan jargon gerakan anti pendogmaan agama. memecahkan kebuntuan ‘kultur’ agama (Islam)’tradisional’. yang menurut mereka (para pembuat film) menyatakan betapa sempit pandangan Islam terhadap peran serta perempuan dalam kehidupan. tsumma na’udzubillah.
dengan bungkus ‘religius’ seolah-olah menggambarkan begitu bodohnya ajaran Islam dalam melindungi hak-hak perempuan. film yang bertujuan menunjukkan ‘daya dobrak’ perempuan, justru sebenarnyalah amat sangat menjatuhkan martabat perempuan. dan inilah mungkin yang tidak disadarai oleh para partisipan penggarap film tersebut.
emansipasi wanita. sebuah wacana yang berhasil dibumikan oleh para kaum zionis dan orientalis. dan begitu amat banyak juga para ilmuwan, yang bergelar pakar agama telah terjebak dalam fenomena emansipasi tersebut. semoga Alloh mengampuni.
bagaimana sebuah film yang dipuja-puja, justru mengumbar berbagai kebiasaan perempuan jahiliyah. annisa yang digambarkan mencoba untuk mengubah ‘tradisi’ keberagamaan, yang menurutnya sangat mengekang kebebasan seorang perempuan. dan inilah yang sebenarnya rosululloh telah memperkirakan sebagaimana belia bersabda: barang siapa menyerupai atau meniru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.
dan tokoh annisa ini dihadirkan dengan sosok yang sempurna sebagai perempuan yang berpikir dan berperilaku sebagaimana para orientalis dan zionos bertindak. perempuan bebas bertindak apapun tanpa memandang lagi hak mereka sesungguhnya sebagai muslimah. sungguh suatu hal yang amat menyedihkan.
bagaimana sebuah nilai-nilai keagamaan coba disejajarkan dengan nilai-nilai fiksi. khayalan. khayalan dari seseorang yang ingin melepaskan nilai-nilai kemanusiaan yang telah diatur dengan begitu agung oleh Alloh dalam kitab al-Qur’an. sekaligus dicontohkan oleh rosululloh, sahabat/sahabiah, tabi’in dan para tabi’ut tabi’in.
bagaimana para sahabiah: khadijah, aisyah, ummu sulaim, ummu athiyah al- anshariyah, ummi kultsum, ummi sulaith dan masih banyak yang lain. beliau berjuang di medan perang sebagai pejuang yang mensupport secara aktif perjuangan para suami. begitu luar biasa dalam mengangkat sebuah eksistensi nilai-nilai Islam dalam perjuangan bersama rosululloh.
lalu apatah cukup dengan tokoh annisa (diperankan revalina s. temat) yang akan menggantikan kemuliaan sikap para sahabiah. sebuah ‘model’ yang diciptakan untuk meruntuhkan nilai-nilai mulia perempuan dengan kedok anti dogmatis. oleh karena itu berhati-hatilah wahai anak-anak perempuan dan saudaraku seiman. sebuah penggambaran yang amat picik. dan tentu saja semua yang terlibat dalam pembuatan film ini pasti akan berkomentar: biasalah. setiap karya, pasti ada pro dan kontra.
saya tidak habis pikir. stigma apa yang telah dibuat oleh penulis, sehingga menggambarkan situasi kehidupan (beragama) seperti itu di pesantren. entahlah. pesantren gang berapa atau jalan apa yang mewakili situasi di dalam film tersebut. atau mungkin juga pembuat film, sengaja memprovokasi. mencari sensasi, agar filmunya laku. dan tentu saja akan mengisi pundi-pundi uang para punggawanya. tanpa mempedulikan esensi aqidah itu sendiri. inilah salah satu jalan pintas menuju kaya, yang mengatasnamakan seni dan kreativitas. innalillahi wa inna ‘ilayhi rooji’uun.
inilah ‘revolusi’ baru pemikiran yang mencoba merongrong nilai-nilai keislaman yang sebenarnya. dan ingatlah, Alloh telah mengingatkan kita lewat surat at-Taubah: 71 yang berbunyi:
dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Alloh dan rosulNya. mereka akan diberi rahmat oleh Alloh; sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
selanjutnya kepada saudaraku seiman. tinggal anda sendiri untuk menilai. layak atau tidak layak film ini diambil contoh dalam kehidupan anda.
Recent Comments:
- SARJONO: Bagi yang membutuhkan KERUPUK RAMBAK PATI ukuran PANJANG(BUKAN KERUPUK RAMBAK YG KULIT/kerupuk rambak yang...
- aabaim: gan, tips cara goreng rambaknya dong saya lg ngerintis jual rampak di manado cm belum menemukan cara goreng...
- Konol Badak: Ndas mu jebluk, dolanan karo keris percoyo takhyul mirip wong gemblung, gawean karo jin.
- Rolak Community: Koyok Arek Enom ae Cangkruk ndek Rolak Hahahahahaha
- fandi: saya salah satu pemilik keris antik dan langka,mungkin Gus berminat,maharnya terjangkau!!!!!jika berminat bisa...
Recent Trackbacks:
- FAITES COMME CHEZ VOUS: Setelah Babel, Situs Trowulan
- menggapai sukses: Onde-Onde
- Informasi Mojokerto: Klarifikasi Pihak Radar Mojokerto
- Moeghan Network: Bakso Pentol Besar di Mojosari










May 19th, 2009 at 8:12 am
iya,sepakat…
film itu seperti ingin “menggugat nilai2 islam ttg wanita..”
May 25th, 2009 at 1:15 am
Tadi malam saya beli film yang dimaksud diatas. Film itu saya beli original bukan bajakan. Karena, beli bajakan itu dosa. Melanggar hukum agama dan hukum manusia.
Dalam menonton filem, saya selalu melihat informasi awal yang biasanya tertuliskan di covernya. Entah itu berisi “Berdasarkan kisah nyata”, atau “Berdasarkan novelis bla bla”. Yang ada dalam cover Perempuan Berkalung Sorban adalah : “Novel by Abidah El Khalieqy”.
Yang saya fahami, sebuah novel sangat beda dengan hadist, atau bahkan beda jauh dengan Al-Qur’an. Jadi, cerita dan film diatas adalalah hasil dari imajinasi manusia yang biasa kusebut “Seni” dan “Hasil cipta, karsa dan karya manusia”.
Jadi, pahamilah film diatas sebagai sebuah seni. Saya faham bahwa perempuan dalam Islam tidak seperti penggambaran diatas. Saya faham bahwa apa yg dilakukan Imam Samudra dan Amrozi cs ‘kliru’ menurut Islam. Artinya, saya bisa memahami bahwa film dan kehidupan nyata sangat beda.
C’mon, jangan bersempit ria seperti tulisan diatas mas. Perempuan berkalung sorban hanyalah hiburan belaka. Film itu hanyalah hasil seni manusia. Kalau mau diperdebatkan, silahkan. Tapi jangan menghakimi film tersebut seakan-akan menjadi hal yang buruk.
Saya aja terpingkal-pingkal melihat film diatas. Ada sisi bagus nya dan ada sisi tidak masuk akalnya. Akhirnya, saya tetap menghormati istri saya sesuai Islam. Dan menjadikannya ‘guyonan’ untuk kehidupan kita. Believe it or not, saya jadi semakin ayem dengan istri mas.
Sekali lagi, Perempuan Berkalung Sorban adalah film, hasil seni manusia, yang memang mereka adalah pekerja seni. Mencari uang diatas seni yang diusung. Be real lah mas !
May 25th, 2009 at 2:23 am
insyaalloh, saya coba realistis. sebab saya pernah bekerja sebagai ‘pekerja seni’ (1991-2002, kebetulan saya kenal abidah saat masih di jogja), dan seringkali merasakan pemberontakan pikiran di saat saya kembali membuka dan memaknakan lagi al-Qur’an dalam kehidupan nyata. sebab ternyata ‘patron’ pluralisme begitu membutakan mata hati saya, sehingga seringkalai saya rasakan bahwa: ya Alloh, sering ternyata aku khianati-Mu. saat aku bersujud, aku mengaku tuduk. namun saat aku bekerja, ketundukkan itu menjadi bias. teramat bias, kadang…
berangkat dari pengalaman pribadi inilah, saya coba berbagi. termasuk dengan para kolega saya. tentu saja, seringkali justru caci makilah yang sering saya dapatkan. bahkan sampai dengan resiko kehilangan pekerjaan yang berpuluh tahun juga saya geluti.
namun ketika saya membaca peringatanNya lewat ayat di atas, saya menjadi nyaman. meskipun saat ini saya hanyalah seorang petani kecil dan berdagang kecil-kecilan. dan kadang untuk membayar sekolah anak sayapun, kadang harus (terpaksa)berhutang. sebab sekolah gratispun hanya jadi komoditas seniman politik dan politik seniman.
di atas pentas seni politik mereka bicara tentang sembako murah, pendidikan gratis, jutaan lapangan kerja baru, harapan baru. atau baru-baru yang lain… meski kenyataannya, toh itu hanyalah seni untuk menghibur mereka yang dinamakan rakyat.
pluralisme membuat dunia kita menjadi abu-abu. namun bila kita bisa memilih hitam atau putih. kenapa kita takut untuk memilih putih…? dan tidak lagi bersembunyi ‘atas nama seni’ untuk menghianati keyakinan kita. wallohu ‘alam bisshowab.
terima kasih. salam tuk keluarga mas hendra n mbak winda. jazaakumulloh khoiron.
August 10th, 2009 at 6:09 am
Jadi, pahamilah film diatas sebagai sebuah seni. Saya faham bahwa perempuan dalam Islam tidak seperti penggambaran diatas. Saya faham bahwa apa yg dilakukan Imam Samudra dan Amrozi cs ‘kliru’ menurut Islam. Artinya, saya bisa memahami bahwa film dan kehidupan nyata sangat beda.
****
bukan berarti dengan alasan seni kmudian boleh melakukan kejahatan, memberikan gambaran yang buruk tentang islam, menjungkir balikkan nilai-nilai al quran dan sunnah.
kalau kalimat njenengan ini dibenarkan, ” C’mon, jangan bersempit ria seperti tulisan diatas mas. Perempuan berkalung sorban hanyalah hiburan belaka”,
apa jadinya khidupan ini nantinya?
orang2x smisal imam samudra pun nanti nya boleh membuat film2x hiburan yang membenarkan keyakinan mereka dan mengajak pemuda-pemuda yang masih muda akal dan ilmu nya untuk meniru mereka?
atau sebaliknya boleh dong para seniman penikmat tubuh telanjang itu berdalih dengan alsan seni membuat gambaran bahwa wanita islam itu yang shohih harus seperti. yaitu wanita muslimah yang telanjang dan membuka aurat mereka?
naudzubillah