Sat 27 Oct 2007
Perajin Anatomi Tubuh Manusia asal Mojokerto
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: BeritaBerawal dari Sales, Pemesannya sampai Bandung
Di sela-sela banyaknya kebutuhan alat peraga sekolah sesuai dengan kebutuhan DAK, ternyata di Mojokerto sendiri, ada seorang perajin alat-alat peraga pendidikan. Uniknya, ia justru tidak mendapatkan order dari wilayah Mojokerto.
Adanya kebutuhan alat peraga untuk memenuhi proyek DAK, ternyata informasi itu sama sekali tidak didengar oleh Aris Santoso, perajin alat peraga pendidikan. Karena, ia memenuhi permintaan pesanan luar kota. “Soal DAK kita tidak tahu,” ujar Santoso polos.
Sekitar 25 orang sibuk bekerja di rumah laki-laki yang berusia 36 tahun ini di Desa Dinoyo Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto. Ternyata, mereka sedang mengerjakan replika anatomi tubuh manusia untuk alat peraga mata pelajaran Biologi.
Tidak hanya anatomi tubuh manusia yang diproduksi secara home industry ini oleh Santoso. Tetapi juga ada beberapa alat peraga lainnya. Mulai anatomi tubuh manusia, juga replika berbagai jenis hewan untuk alat peraga anak-anak TK dan play group. Sedangkan untuk siswa SD, juga ada globe, atlas berbagai negara.
Prosesnya sebenarnya cukup sederhana. Yakni, mencetak, merapikan selanjutnya mewarnai organ-organ tubuh manusia. Untuk mencetak ini ia menggunakan bahan sejenis dengan fiber glass. Dan inilah yang menjadi bahan utama.
Kendala yang dihadapinya, terutama terkait dengan bahan baku ini. Karena masih harus impor, maka sangat bergantung dengan kondisi nilai tukar rupiah. Tapi, dengan semakin banyaknya pemesan, maka harga pun dapat terangkat dengan sendirinya.
Sebab, berbekal pengalaman sebagai sales alat peraga, Santoso memiliki channel di berbagai perusahaan dan toko yang menjual alat-alat peraga ini. Karena itu tidak heran, justru produksinya ini lebih banyak keluar daerah. Seperti bandung, Jakarta atau Bogor yang dulu saat ia menjadi sales pernah disuplainya.
Sedangkan untuk keterampilan produksi, juga diperoleh di home indrustry yang memproduksi alat peraga. “Setahun saya bekerja di home industry yang memproduksi alat-alat ini. Kemudian, saya minta pindah ke bagian sales, karena selain ingin bisa produksi, juga tahu penjualannya,” ujarnya.
Strateginya berhasil. Ia mampu menguasai mulai pengadaan bahan baku, produksi hingga pemasarannya. Setelah merasa cukup, ia pun berpamitan untuk pulang kampung. Di Desa Dinoyo inilah ia memulai usahanya. “Saya hanya bermodal Rp 200 ribu,” ujarnya.
Karena produksinya belum masal, ia belum berani menawarkan ke pemesan-pemesan luar kota yang dulu dikenalnya. Yang dilakukan hanya menjual ke sekolah-sekolah yang ada di lingkungan sekitarnya. “Itu saat-saat sulit, Alhamdulillah sudah terlewati,” katanya yang hampir putus asa atas kejadian itu.
Kini dengan jumlah pekerja 25orang, ia mampu memproduksi 30 item alat-alat peraga atau anatomi tubuh manusia. Karena itulah, ia baru berani menghubungi para pelanggan dan perusahaan besar yang pernah dikenalnya. Bisa jadi, alat peraga yang ada di sekolah-sekolah Mojokerto ini juga berasal darinya.
Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)






