Tue 15 Jul 2008
Para Penjahit Permak Jeans di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: TeknologiLayani Konsultasi Menjahit Gratis, Jaring Pelanggan sampai Bupati
Kesempatan mengais rezeki menjelang masuk sekolah, tidak saja milik penjual kain, sepatu dan buku. Para penjahit permak jeans pun turut kecipratan. Bahkan, mereka tidak segan memberikan konsultasi gratis.
Masuk kawasan Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, yang terbesit tentu kebutuhan rumah tangga. Seperti bahan pokok, dapur, sayuran, berbagai macam ikan, hingga buah-buahan. Namun, siapa sangka di dalam pasar itu terdapat los (stan) yang disediakan bagi penjual jasa permak jeans.
Karena lokasinya berada di dalam pasar, tidak heran bila komunitas penjual jasa jahit itu tak banyak dikenal orang. ”Mungkin karena kurang sosialisasi. Tidak banyak orang tahu kalau di pasar ini ada kami,” ujar Agus Wahyudi warga Griya Permata Permai Magersari, Mojokerto sekaligus koordinator penjahit permak jins di kawasan tersebut. Dari tempat yang berdampingan dengan lokasi penjual dan servis jam tangan itu, rupanya banyak penjahit yang sama seperti Agus. Bila dihitung ada sekitar 18 orang.
”Sebagain besar laki-laki, yang perempuan cuma satu,” katanya. Meski tidak banyak yang tahu lokasi yang ada sejak tahun 1955 itu, namun bila diamati pelanggan yang memanfaatkan jasa para penjahit permak jins tidak sedikit. Silih berganti datang menghampiri meraka.
Dari 18 mesin jahit listrik yang digunakan, tidak satupun yang berhenti menjahit. ”Apalagi menjelang masuk libur, permintaan kepada kami semakin meningkat. Kami sampai kekurangan tenaga,” tambah bapak dua anak ini.
Menurut Agus, peningkatan permintaan jasa yang datang memang jauh lebih tinggi, dibanding hari biasanya. Omzet yang didapat mencapai 300 persen. Saking banyaknya permintaan, tidak jarang mereka harus menyelesaikan pekerjaan hingga beberapa hari. ”Seperti semua kain yang menumpuk ini milik pelanggan. Belum bisa kami selesaikan hari ini,” terang Agus sembari menujukan pakaian yang menumpuk di meja jahitnya.
Meski berbeda dengan raparasi jasa penjahit pakaian yang sudah punya nama, namun bila diamati hasil jahitan yang dikerjakan tidak berbeda jauh. Itu dibuktikan dengan banyaknya pelanggan yang ketagihan menggunaka jasa mereka. Tidak saja ahli dalam melakukan permak, rupanya mereka juga punya kelebihan dalam menyelesaikan jahitan baju dan celana berbagai bentuk.
Karena itu, tidak heran yang biasa mampi kekawasan tersebut bukan hanya dari ekonomi terbatas, ekonomi menengah hingga pejabat publik seperti bupati yang diam-diam juga memanfaatkan skill mereka. ”Tidak jarang kami mendapat pesanan menyelesaikan pesanan Pak Achmady (mantan bupati, Red). Baik berbentuk baju maupun jas,” terangnya.
Kendati demikian, para tukang permak jins ini, tidak pernah membedakan siapa pelanggannya. Asalkan bersedia membayar, mereka tidak akan memprioritaskan. Meski sama-sama memiliki kemampuan menjahit, namun bila ditelusuri lebih dalam, yang membedakan para penjahit permak jins dengan penjahit lainnya, banyak memiliki perbedaan.
Disamping harga relatif terjangkau, siapapun yang datang ke lokasi ini bisa melakukan konsultasi gratis. ”Meski hanya sekadar konsultasi model dan bentuk jahitan, tetap kami layani. Dan itu dijamin gratis,” ungkap Agus.
Menurutnya harga jahit untuk satu kali permak jins bisa mencapai Rp 5 ribu hingga 10 ribu, tergantung permintaan. Tetapi kalau untuk sekadar mengecilkan, tidak membutuhkan waktu lama, para tukang jahit ini tidak akan menarik biaya. ”Kalau cuma jahitannya sedikit, ya nggak usah bayar,” ungkapnya.
Selain Agus hal yang sama juga disampaikan Syamsul Huda, pejahit asal Dusun Kepindon Desa Japan Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Meski begitu, mereka bukan berarti tidak pernah menemui masalah.
Kerapkali pelanggan harus protes karena jahitan yang dikerjakan tidak sesuai harapan. ”Kalau sudah seperti ini mau tidak mau harus mengganti,” katanya sembari melayani seorang pelanggan.
Menurutnya, setiap penjahit pasti pernah mengalami hal yang sama. Karena itu bagi mereka, protes atau bahkan cacian dari pelanggan merupakan hal yang biasa. ”Bagi kami mereka tetap saja pelanggan. Bila perlu kami yang mengalah meski harus mengalami kerugian,” terang laki-laki berusia 47 tahun itu.
Reporter : MOCH. CHARIRIS, Mojokerto
Sumber : Radar Mojokerto




