Mon 1 Sep 2008
Para Musafir di Kompleks Makam Troloyo, Trowulan, Kabupaten Mojokerto
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: MojopahitanDulu Hobi ke Lokalisasi, Kini Jadi Tukang Bersih-Bersih Makam
Kompleks Pemakaman Syeh Djumadil Kubro, Trowulan tidak saja menjadi tujuan para peziarah, namun juga menjadi jujugan para musafir yang belakang punya masalah. Dari yang suka bermain PSK hingga memendam masalah keluarga. Apa saja yang mereka lakukan di sana?
Tempat pembinaan moral dan spiritual tidak hanya di lembaga pendidikan formal atau pondok pesantren. Namun, lokasi makam para aulia bisa jadi tempat tersendiri bagi mereka yang ingin mengubah perilaku.
Seperti di Kompleks Makam Syeh Djumadil Kubro Troloyo Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang kini banyak ditempati para musafir. Walaupun tidak dilengkapi sarana pendidikan dan pengajar, namun tempat itu bisa jadi tempat mujarab untuk mengubah moral, bahkan mempertebal keimanan.
Hal itu terlihat dari kebiasaan para musafir yang kebanyakan datang dari luar daerah. Mulai yang suka membersihkan area pemakaman, hingga memilih berdiam diri sambil membaca doa. ”Ingin bersih-bersih makam ini karena kesadaran saja. Karena kami tidak ada yang menyuruh,” ujar Saiful Bachri, musafir asal Kelurahan Kembang Kuning, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Saiful Bachri merupakan satu di antara 32 musafir yang ada di Kompleks Makam Troloyo itu yang berada di lokasi itu sejak Januari 2008. Saat ditemui laki-laki berusia 40 tahun ini sedang membersihkan Makam Tumenggung Satim Singgomoyo yang letaknya di sebelah selatan Makam utama Syeh Djumadil Kubro.
Di makam itu dia tidak sendirian, melainkan bersama beberapa musafir lainnya. ”Tapi, latar belakang mereka datang ke sini berbeda-beda,” jelasnya sembari menunjuk beberapa teman sesama musafir. Dianggap musafir karena mereka tidak mempunyai rumah, bahkan saudara di area Makam Troloyo itu.
Diceritakan Bachri, musafir yang ada di makam rata-rata sedang tersandung masalah. Baik dalam bentuk ekonomi, masalah keluarga, sampai masalah kesehatan karena sering berkunjung ke tempat lokalisasi. ”Tapi, bagi yang datang karena terlibat kriminal, pengelola makam tidak bisa menerima,” kata Bachri, panggilan akrab Saiful Bachri.
Bachri sendiri misalnya, dia nekat menjadi musafir di makam itu karena, mengalami gejala stroke. Bahkan, tahun 2000 lalu laki-laki yang mengaku sudah dikaruniai dua anak ini tak mampu berjalan. ”Saya sudah mencoba berobat ke sana-ke mari, tapi tidak ada perubahan,” katanya. Pengakuan istri Sundari itu bukan tanpa alasan.
Dia justru meyakinkan Radar Mojokerto saat bertanya, sebelum resmi mempersunting istrinya tahun 1997, Bachri muda acapkali bermain PSK di Lokalisasi Dolly Surabaya. ”Saat itu hampir setiap minggu saya selalu datang ke sana. Karena merasa sudah ketagihan,” jelas laki-laki bertato itu.
Walaupun sudah berkeluarga, namun hobi itu tidak menyurutkan niatnya berhenti dari ajang maksiat. Sebab, setelah menikah, istrinya memutuskan untuk menjadi TKW di Hongkong.
Berangkat dari segala pengobatan yang tak kunjung membuahkan hasil, dia lantas memutuskan untuk menjadi musafir di Makam Troloyo, termasuk makam para wali di Jawa.
”Alhamdulillah, sejak di sini, saya bisa sembuh 90 persen. Bahkan, bisa beraktivitas seperti yang lain” tuturnya. Perubahan yang dirasakannya tidak saja dalam bentuk kesehatan, Bachri juga mengaku saat ini tidak berani berbicara bohong kepada orang lain. ”Karena itu, kalau Anda tanya apa saja tentang saya, saya akan menjawab dengan jujur,” jelasnya.
Berbeda lagi dengan Arifin, kakek berusia 70 tahun asal Kandangan, Pare Kediri. Dia mengaku menjadi musafir karena terlibat pertengkaran dengan sang istri hanya karena motornya terkena tilang polisi. ”Begitu mendengar istri marah, saya langsung memutuskan meninggalkan rumah,” ungkap Arifin yang menghuni Makam Troloyo sejak tiga bulan lalu.
Dia mengaku menjadi musafir bukan karena terlibat pertengkaran dengan sang istri semata, melainkan tidak ingin merepotkan keluarga karena tak mampu lagi memberikan nafkah.
Meskipun demikian, Arifin yang biasa dipanggil Mbah Rifin ini tetap merindukan berkumpul dengan keluarga. ”Saat Lebaran nanti saya putuskan untuk kembali berkumpul dengan keluarga,” katanya sembari mengeluarkan air mata. (yr)
Reporter : MOCH. CHARIRIS, Trowulan (Radar Mojokerto)






