Fri 11 Jan 2008
Sejumlah kegiatan berbau prosesi meramaikan Grebeg Satu Suro Majapahit 1941 Saka. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar bertepatan dengan Tahun Baru 1429 Hijriyah tersebut dipusatkan di Pendopo Agung Trowulan.
Mengawali kegiatan tersebut dilaksanakan Mocopat pada Rabu (9/1) malam. Ratusan among tani berkumpul di tempat bersejarah tersebut. Pada pagi harinya, kegiatan dilanjutkan berziarah ke beberapa makam di Mojokerto. Diantaranya, Taman Makam Pahlawan (TMP), Siti Hinggil lokasi makam Raden Wijaya dan diakhiri di Sumur Upas.
Sore harinya, dimulai pukul 15.00 digelar prosesi kirab sesaji atau uba rampe. Prosesi rombongan pelaksana ritual yang dalam sejarah merupakan persembahan hasil bumi kepada raja-raja Majapahit ini diberangkatkan dari Museum Trowulan dan berjalan menuju Pendapa Agung Trowulan.
Selama kirab berlangsung dipimpin oleh Ketua Himpunan Penghayat Kepercayan (HPK) Jawa Timur Kanjeng Pangeran Wismojo Djati Soeharto Soerjo Widjojo. Mereka mengenakan baju tradisional batik dan blangkon khas Majapahitan. Rombongan juga membawa empat simbol kerajaan Majapahit, masing-masing, bendera gulo klopo berwarna merah putih, tombak, payung agung dan pataka surya Majapahit, juga diiringi dengan berbagai pasukan panah, tombak dan pasukan berkuda yang diperankan anggota HPK.
Menurut Kanjeng Pangeran Wismojo Djati Soeharto Soerjo Widjoyo, acara tersebut mempunyai maksud untuk mengingat sejarah budaya kerajaan Majapahit. “Mengembalikan jatidiri kebudayaan bangsa, ini penting. Dengan budaya bisa dipersatukan seluruh bangsa di negeri ini,” katanya. Seluruh prosesi acara tersebut pun diakhiri dengan pergelaran wayang kulit, tadi malam. (abi/yr)
Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)




