Mantan Tukang Sapu Pasar Itu Kini Jadi Calon Gubernur

Hidup memang penuh misteri. Siapa sangka, Achmady, anak petani yang pada 1971 silam hanya seorang tukang sapu pasar, akhirnya menjadi Bupati Mojokerto hingga dua periode. Kini, putra asli Mojokerto itu mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Jatim. Bagaimana perjalanan karir Achmady?

Meski tidak persis, sejarah karir Achmady di dunia pamong praja, nyaris sama dengan perjalanan karir legenda Damarwulan, (Raja Majapahit yang berpermaisurikan Sri Ratu Kencono Wungu).

Sebelum menjadi raja, Damarwulan hanyalah seorang tukang ngarit (pencari rumput, Red) di kepatihan. Saat itu, pejabat patih tersebut bernama Logender. Meski hanya tukang ngarit, tapi perilaku, kerja keras dan semangatnya mampu menyedot perhatian Logender dan sejumlah pejabat kerajaan Majapahit.

Ketika menjadi tukang ngarit itu, Majapahit tengah menghadapi pemberontakan Girindra Wardana. Dan Minak Jinggo, konon disebut-sebut sebagai tokoh pemberontak sekaligus musuh bebuyutan Kerajaan Majapahit kala itu.

Singkatnya, berkat kerja keras, kadigjayan dan moralitasnya, akhirnya Damarwulan yang dikenal suka lelaku ini memberanikan diri menghadapi Minak Jinggo. Dan, dalam pertempuran itulah, Minak Jinggo terbunuh. Keberhasilan inilah yang kemudian mengerek Damarwulan sebagai Raja Majapahit.

Sama seperti Damarwulan, awal perjalanan karir Achmady ternyata berangkat dari pekerjaan yang cukup rendah. Jika Damarwulan mengawali karirnya dari tukang ngarit, Achmady memulai perjalanan di dunia pamong praja dari seorang tukang sapu di pasar.

Satu lagi yang sama dalam sejarah perjalanan karir kedua tokoh berbeda zaman itu. Achmady, dia meninggalkan Desa Kemasan Tani (tempat kelahirannya) setelah ditegur ayahnya, K.H Khusnan. ’’Besok, kamu akan jejer dengan Bupati Mojokerto “, kata KH. Khusnan sembari menepuk pundak Achmady.

Demikian pula dengan Damarwulan. Dia meninggalkan Desa Paluombo (tempat kelahirannya) konon, setelah ditegur seorang Brahmana, bahwa tempatnya bukan di Paluombo. Tapi di Pendapa Graha Majatama/nama pendapa Majapahit. (Sekarang menjadi nama pendapa Kabupaten Mojokerto, Red).

Bisikan ayahnya yang seorang kyai, menjadi pemompa motivasi Achmady untuk tidak berlama-lama menjadi petani. Dengan tekad bulat, calon gubernur asal PKB ini mengayunkan langkahnya untuk memasuki dunia pamong praja. ’’Ketika itu, saya masih berusia 21 tahun,’’ kenang Achmady.

Kendati anak seorang kyai, visi orang tuanya yang berdarah TNI, tak membuat Achmady malu sebagai tukang sapu. Bermodal ketekunan, kerja keras dan haus prestasi, akhirnya anak kedua dari 9 bersaudara pasangan KH Achmady Khusnan dan Hj Hidayah (alm) tersebut menggapai cita-citanya.

Perlahan tapi pasti, jenjang karirnya terus merangkak mengiringi usianya. Dari tukang sapu, dua tahun kemudian dia diangkat menjadi juru parkir Pasar Pohjejer (penarik retribusi). Berkat prestasi dan kejujurannya selama menjadi juru parkir, membuat suami Hj Laliek Achmady tersebut dipercaya menjadi staf di Kecamatan Gondang, Daerah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.

Sinyal cucu KH Muhammad Yasin ini bakal menjadi pemimpin, terlihat kali pertama, ketika Pemkab Mojokerto menunjuk Achmady sebagai utusan pegawai negeri Kab.Mojokerto untuk mengikuti tugas belajar di Sekolah Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN Malang, 1974-1978).

’’Sepulang dari APDN, sekitar pertengahan tahun 1978, saya dipercaya menjabat Kasi Pemerintahan Desa di bagian pemerintahan,’’ terang Achmady. Hanya satu tahun menjadi kasi pemerintahan desa, dia kemudian dipromosikan menjadi Mantri Polisi Pamong Praja.

Selama dua tahun berkiprah sebagai Mantri Polisi Pamong Praja, akhirnya Achmady mulai menemukan jawaban atas suara batin sang ayah, (Kelak kamu akan jejer Bupati Mojokerto).

Bagaimana tidak, ternyata jabatan Mantri Polisi yang hanya 2 tahun itu, menjadi jendela untuk memulai jadi pemimpin rakyat. Atas dedikasinya, dan sifat merakyat selama menjadi mantra Polisi Pamong Praja, membuat Bupati HD. Fathurramah (Alm) mengangkat dia sebagai Camat Bangsal.

Inilah cikal bakal Achmady sebagai sosok pemimpin. Saat itu, Achmady tercatat sebagai camat termuda se-Kabupaten Mojokerto. Karena usianya pada saat diangkat menjadi Camat Bangsal masih 31 tahun.

Tiga tahun menjadi Camat Bangsal, (1981-1984), Achmady kembali dipercaya menjabat Camat Trawas. Di tempat inilah, jiwa sebagai pemimpin Achmady teruji. Sepuluh tahun, dia menjabat sebagai Camat Trawas.

Sejarah karir Achmady terus bergulir. ’’Setelah menjabat camat selama 13 tahun, akhirnya saya dipromosikan menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan,’’ paparnya. Dua tahun kemudian, Achmady dipercaya Bupati menjadi pembantu Bupati Mojokerto di Mojosari. (bersambung)

Sumber : Daniel, Partai Damai Sejahtera, Dewan Pimpinan Cabang Surabaya.
http://www.pdssurabaya.com/index.php?option=com_content&task=view&id=792&Itemid=30