Tue 20 May 2008
Memanfaatkan Batok Kelapa sebagai Bahan Bakar Alternatif
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: TeknologiAwalnya Coba-Coba, Sekarang Rutin Kirim ke Bali
Batok kelapa yang biasanya dibuang setelah isi kelapa diambil ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Tak hanya itu, hasil pembakaran kulit pohon nyiur ini juga menghasilkan karbon untuk penjernih air.
Tumpukan batok kelapa itu sudah terlihat bersih. Batok-batok yang awalnya berupa pecahan kelapa itu, sudah dipilah. Batok-batok itu dikumpulkan, sementara kulit luarnya disisihkan. Pekerjaan awal membuat bahan bakar alternatif itu menjadi rutinitas pasangan Bambang Sujarnoko dan Nurul Aini, warga Desa Pungging Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto.
Pasangan suami-istri ini lalu memulai proses pembuatan bahan bakar mirip arang multifungsi ini. Dari mulai membakar batok-batok kelapa itu, mengoven, menggiling hingga mengayak serpihan-serpihan batok yang sudah berupa buliran-buliran warna hitan. Tak cukup sehari, butuh beberapa hari untuk mendapatkan hasil pemanasan yang dilakukan.
“Ya, nggak bisa diperkirakan berapa jam jadinya, bisa dua hari atau tiga hari, pokoknya seminggu dapat satu ton,” kata Bambang Sujarnoko. Menurutnya, ada dua jenis dari hasil pembakaran batok-batok kelapa itu. Yaitu berupa arang yang dipakai sebagai energi alternatif dan karbon yang berfungsi sebagai penjernih air.
Bambang mengatakan, arang-arang hasil pembakaran batok-batok kelapa itu berfungsi sebagai pengasapan. “Ini memang seperti bahan bakar alternatif, tapi biasanya dipergunakan oleh restoran atau hotel,” katanya. Arang-arang yang sudah siap pakai itu, kata Bambang langsung dikirim ke Pulau Bali yang selama ini menjadi target pemasarannya. “Di sana sudah ada restoran dan hotel yang memesannya,” imbuh pria berumur 54 tahun ini. Sebagai bahan bakar 1 kilogram batok kelapa itu setara dengan 30 kilogram elpiji atau bisa dipergunakan untuk pengasapan sekitar satu jam. Bambang menjual arang Rp 2000 per kilogram.
Di Bali, selain dipakai pengasapan di beberapa restoran dan hotel, juga sebagai bahan bakar ngaben dan sebagai bahan baku pupuk organik. Tak jarang, uap dari asapnya bisa digunakan sebagai bahan pengawet tanpa menggunakan bahan kimia tapi membutuhkan waktu.
Seperti arang-arang itu, karbon yang juga merupakan salah satu hasil pembakarannya dipasarkan untuk penjernih air. “Biasanya dipesan sebagai penjernih kolam renang, kolam limbah, isi ulang air dan beberapa pesanan lainnya,” kata Bambang. Agak berbeda, untuk karbon dia menjual Rp 4.500 per kilogramnya.
Bambang menuturkan, usaha yang ditekuninya ini sudah berjalan sekitar 18 tahun. Awalnya dia tercatat sebagai karyawan pabrik penjernihan air sekitar tahun 1970. Dibantu istrinya Nurul bapak empat anak ini mengembangkan bahan bakar dari batok kelapa atau kulit dalam kelapa.
Pada 1990, dia mencoba bereksperimen selama 3 tahun hingga tahun 1993 berani memasarkan temuannya di Pulau Dewata Bali. Dan berhasil. “Sebenarnya di Bali itu tempatnya kelapa, tapi karena dibuat kerajinan, sehingga tak ada yang memanfaatkan untuk bahan bakar seperti ini,” katanya.
Untuk mendapatkan bahan baku berupa batok kelapa, Bambang harus keluyuran ke Blitar dan pasar-pasar. “Harganya Rp 300 per kilogram,” katanya sembari meneruskan pekerjaannya.
Sumber : YANUAR YACHYA (Radar Mojokerto).





August 31st, 2008 at 10:05 am
Arang Batok kelapa/arang aktif/karbon aktif memang sudah banyak dipergunakan untuk Industri air minum isi ulang dan pabrik air minum untuk menyerap bau,rasa dan menjernihkan air.
Info tentang cara penjernihan air silahkan kunjungi:
http://www.airminumisiulang.com/page.php?penyaring-air-dan-penjernih-air
Semoga Bermanfaat