Fri 7 Mar 2008
“Imagining Trace Memories”
Gratis 6 Bulan Nonton Film
Dlanggu, 8 Maret - 30 Agusutus 2008
Gagasan Dasar Maja van Java Cinema Club
Kesenian dan kebudayaan merupakan salah satu pilar utama dalam mengembangkan dinamika dan potensi suatu masyarakat. Keniscayaan ini telah menjadi kesepakatan umum di mana setiap lembaga pemerintah terus bergiat dan menggalakkan sumber daya manusia juga alam lingkungannya. Baik untuk tujuan pariwisata, gerakan sosial budaya, pengembangan kreativitas dan potensi masyarakatnya. Kerja budaya secara praksis-dialektis tidak mesti dipantik dan digalakkan oleh pemerintah. Namun masyarakat juga layak dan berhak untuk menumbuhkembangkannya. Terutama di kota Mojokerto. Kota ini sekarang mulai menggeliat untuk terus membangkitkan khazanah kebudayaan yang dimilikinya di mana tilas dan situs kebudayaan Majapahit yang teramat luar biasa itu kini tiada henti dijadikan penelitian dan studi yang memancing minat banyak peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari negara manca.
Beragam kreativitas terus bergerak. Menginspirasi sekian aspek kehidupan. Situs-situs pun mulai dikenalkan dengan menyematkan nilai historis juga pesta atau festival. Terutama di daerah Trowulan dan Troloyo. Saat ini seni ludruk dan Bantengan telah menjadi maskot kebudayaan bagi Mojokerto. Perlu dijaga kelestariannya, dan jika mungkin dikembangkan sisi-sisi yang belum tersingkap dari dua seni beraset tinggi ini. Ini dinamika yang perlu disambut dan terus ditumbuhsuburkan dalam kesadaran masyarakat secara luas. Lebih-lebih bagi seniman, budayawan, LSM, dan lembaga pemerintahan.
Mojokerto paling tidak bisa mengambil inspirasi dari kota-kota budaya lain semisal Bali, Yogyakarta, Riau, atau Bandung yang telah diakui eksistensinya sebagai kota budaya yang progresif dengan segala sumber daya dan sokongan yang akomodatif, bergayung sambut, dan tiada henti menggali khazanah budaya mereka. Intinya, Mojokerto ini sebenarnya kaya budaya, namun belum maksimal digarap secara serius.
Maka, kegelisahan kami, lewat kelompok pecinta film Maja van Java Cinema Club ingin sedikit ikut berpartisipasi dalam menyemarakkan dan mewarnai serta menampilkan sisi lain dengan mengadakan kegiatan pemutaran film gratis selama 6 bulan di Pohkecik, Dlanggu, Mojokerto dengan tema “Imagining Trace Memories”. Di samping pemutaran film di setiap minggu, kami juga mengadakan diskusi kecil terkait tema film dan budaya Mojokerto. Seperti sebulan pemutaran film Charlie Chaplin yang kemudian diretrospeksi dengan para pelawak ludrukan dalam kerlap-kerlip dunia dagelan kosmopolitan saat ini di stasiun-stasiun televisi.
Karena itu, kita berharap Pacet, dengan panorama eksotisnya dan beberapa obyek wisatanya, dapat mencuat dan berkibar sebagai Paris-nya kota Mojokerto. Dan nama Maja van Java Cinema Club kami ikhtiarkan sebagai bentuk representasi bahwa kejayaan dan kebudayaan Jawa silam pernah diukir dengan cemerlang oleh kerajaan Majapahit.
Tujuan dan Harapan Kegiatan
1. Pemberdayaan dan penumbuhan kesadaran masyarakat untuk menghargai dan menghayati seni dan kehidupan melalui media film.
2. Pengenalan dan mengayaan khazanah film yang berbobot dan inspiratif dengan nilai-nilai moral, tokoh-tokoh sejarah, kemuliaan hidup, serta kegigihan untuk tak menyerah dalam bercita-cita dan berkarya cipta.
3. Diharapkan generasi muda Mojokerto tergerak untuk membuat film sendiri dengan penumbuhan kreativitas dan gagasan yang terus didialektikan. Sehingga akan tumbuh sineas-sineas lokal yang tak kalah dengan para sineas mapan di tanah air ini.
Pelaksanaan Program
Program Gratis 6 Bulan Nonton Film akan dilaksanakan di Community Learning Center (PKBM) Harapan Jl A Yani 07 Kasiyan Pohkecik Dlanggu Mojokerto Jatim. Dari tanggal 8 Maret hingga 30 Agustus 2008.
Penyelenggara:
Komunitas pecinta film Maja van Java Cinema Club Mojokerto bekerja sama dengan Community Learning Center (PKBM) Harapan Pohkecik, Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
AGENDA PEMUTARAN FILM
Maret : “Dagelan Bisu Charlie Chaplin”
The Kid (tanggal 8. Pukul 19.00 WIB)
Soldier Arms (tanggal 15. Pukul 19.00 WIB)
The Great Dictator (tanggal 22. Pukul 19.00 WIB)
A Dog’s Life (tanggal 29. Pukul 19.00 WIB)
Diskusi Film bersama Cak Supali (pelawak ludruk Karya Budaya Mojokerto dan pimpinan HSP Production Entertainment Mojokerto)**masih dalam konfirmasi.
April: “Mereka yang Tak Pernah Menyerah”
Cut Nya’ Dien (tanggal 5. Pukul 19.00 WIB)
November 1828 (tanggal 12. Pukul 19.00 WIB)
R.A. Kartini (tanggal 19. Pukul 19.00 WIB)
Marsinah (tanggal 22. Pukul 19.00 WIB)
Mei: “Yang Menderu di Lelorong Sejarah”
Pramoedya Ananta Toer (tanggal 3. Pukul 19.00 WIB)
Gandhi (tanggal 10. Pukul 19.00 WIB)
Turtle Can Fly (tanggal 17. Pukul 19.00 WIB)
Not One Less (tanggal 24. Pukul 19.00 WIB)
Ibunda (tanggal 31. Pukul 19.00 WIB)
Juni: “Puisi Sunyi di Malam Sepi”
Hujan Bulan Juni (tanggal 7. Pukul 19.00 WIB)
Dead Poet Society (tanggal 14. Pukul 19.00 WIB)
My Left Foot (tanggal 21. Pukul 19.00 WIB)
Life is Beautiful (tanggal 28. Pukul 19.00 WIB)
Juli : “Everything Can be Singing”
Cinema Paradiso (tanggal 5. Pukul 19.00 WIB)
The Cup (tanggal 12. Pukul 19.00 WIB)
Le Grand Voyage (tanggal 19. Pukul 19.00 WIB)*
Anak Naga Beranak Naga (tanggal 26. Pukul 19.00 WIB)
Agustus: “Samurai and Akira Kurasawa’s Dreams”
Ran (tanggal 2. Pukul 19.00 WIB)
The Seven Samurai (tanggal 9. Pukul 19.00 WIB)
Dreams (tanggal 16. Pukul 19.00 WIB)
Kagemusha (tanggal 23. Pukul 19.00 WIB)
Rashomon (tanggal 30. Pukul 19.00 WIB)
Catatan:
Jadwal film dan jam tayang bisa berubah sewaktu-waktu.
SINOPSIS FILM
The Kid
Aktor : Charlie Chaplin
Sutradara : Charlie Chaplin
Durasi: 68 min
Genre:Komedi
Produksi: Charlie Chaplin Production, 1921, hitam putih
Kisah tentang seorang anak yang ditinggalkan oleh ibunya yang belum menikah (Edna Purviance), dia berharap akan memberikan kepadanya kehidupan yang lebih baik dengan cara meninggalkannya di sebuah limousine. Sayang sekali, limo itu dicuri, para penjahatnya membuang bayi itu ke sebuah gang yang lalu ditemukan oleh seorang gelandangan kecil. Setelah tak berhasil menawarkan bayi itu pada berbagai macam orangtua yang tepat, gelandangan kecil lalu berkewajiban untuk memeliharanya.
THE KID merupakan film panjang pertama yang disutradarai Charlie Chaplin dan ia menganggapnya sebagai satu dari filmya yang terbaik. Didampingi si bintang cilik berumur lima tahun Jackie Coogan, yang ditemukan Chaplin saat pertunjukkan ayahnya di Los Angeles. Dia memang berbakat berada di layar dan disukai para penonton film, sama halnya dengan Chaplin.
Shoulder Arms
Aktor : Charlie Chaplin
Sutradara : Charlie Chaplin
Genre:Komedi
Durasi: 46 min
Produksi: First National Pictures ,1918, hitam putih
SHOULDER ARMS (1918) adalah merupakan kisah kepahlawanan dari si Gelandangan Kecil di dalam dan di luar parit-parit perlindungan pada Perang Dunia I. Seorang serdadu yang tak semestinya berada di sana, si Gelandangan Kecil berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dalam rangkaian petualang yang seru.
The Great Dictator
Aktor : Charlie Chaplin
Sutradara : Charlie Chaplin
Durasi: 124 min
Genre:Komedi
Produksi: 1940, hitam putih
Penghargaan: Nominasi Oscar 1941 untuk aktor pemeran utama, naskah asli untuk film, New York Film Critic Circle Award 1940 untuk aktor terbaik
Dalam THE GREAT DICTATOR, inilah film pertamanya yang berbicara, Charlie Chaplin terlibat antara dua peran yaitu Adolf Hitler (Adenoid Hynkel) dan Benito Mussolini (Benzino Napolini) dengan ejekan-ejekan tajambya. “Saya adalah badut”, katanya dalam wawancara dengan The New York Times Magazine beberapa waktu sebelum pertunjukkan perdananya tahun 1940.
Chaplin berperan sebagai diktator keji dan seorang tukang cukur Yahudi tak berdosa yang terlibat asmara dengan Hannah (Paulette Goddard).
A Dog’s Life
Aktor: Charlie Chaplin
Sutradara: Charlie Chaplin
Durasi: 40 menit
Genre: komedi
Produksi: First National Pictures ,1918, hitam putih
A DOG’S LIFE tidak hanya merupakan cerita yang menyenangkan dari dari orang yang bernasib malang dengan anjingnya yang berhasil melewati perselisihan di antara mereka, tapi juga merupakan serangkaian lelucon yang menggelikan dan dagelan dari kebiasaan sehari-hari.
Cinema Paradiso
Aktor : Marco Leonardi, Antonella Attili, Salvatore Cascio
Sutradara: Giuseppe Tornatore
Produksi: Cristaldifilm, Italia, 1988
Durasi: 155 menit
Genre: Drama
Penghargaan: Academy awards 1990 sebagai Best foreign Language Film, Grand Prize of the Jury Cannes Film Festival 1989 untuk Giuseppe Tornatore.
Seorang sutradara film tersohor kembali ke kampung halamannya di Sicilia setelah 30 tahun untuk pertama kali. Teringat masa kecilnya pada Alfredo seorang tukang proyektor di Cinema Paradiso yang mengenalkannya pada film dan Elena, cinta pertamanya.
The Cup
Aktor : Orgyen Tobgyal, Neten Chokling
Sutradara: Khyentse Norbu
Produksi: Bhutan,1999
Durasi: 93 menit
Genre: Komedi
Penghargaan: Pusan International Film Festival 1999, Munich Film Festival 1999
Buddhism is their philosophy. Soccer is their religion.
Demam sepakbola telah melanda seluruh penjuru dunia tak terkecuali dua pendeta Budha asal Tibet.
Le Grand Voyage
Aktor: Nicolas Cazale, Mohamed Najd, Jacky Nercessian.
Sutradara: Ismael Ferroukhi
Produksi: Maroko, 2004
Durasi: 108 menit
Genre: Drama
Penghargaan: Venice Film Festival 2004 untuk Ismail Ferroukhi sebagai sutradara terbaik dan Humbert Balsan sebagai produser terbaik.
Berkisah tentang perjalanan haji si bapak disopiri anaknya dengan rute dari Prancis - Italia - Slovenia - Kroasia - Yugoslavia - Bulgaria - Turki - Damaskus - Jordania - hingga ke Mekah. Mereka cuma mengendarai sedan butut. Plot berbalut percekcokan yang pahit plus kocak. Dua karakter memikat, unik, dan kontras. Hingga si bapak mati di tengah prosesi haji.
Anak Naga Beranak Naga
Sutradara : Ariani Darmawan
Produksi: Kineruku Productions, 2006
Durasi : 60 menit
Tidak banyak orang tahu bahwa Gambang Kromong adalah sebuah musik akulturatif berbagai etnis di Indonesia yang cikal bakalnya telah dirintis lebih dari dua abad lalu. Irama gambang kromong dengan tata laras Salendro Cina pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa Peranakan sebelum akhirnya mengalami percampuran dengan budaya Jawa, sunda, hingga Deli, membentuk sebuah musik harmonis yang kini menjadi salah satu ciri khas Betawi.
Berdasarkan kompleksitas musik Gambang Kromong itu sendiri, film ini adalah sebuah catatan humanis sekaligus puitis, musikal, hingga komikal tentang musik dan budaya yang terpinggirkan.
Cut Nya’ Dien
Aktor: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Van den Hoek, Rita Zahara, Rosihan Anwar.
Sutradara: Eros Djarot
Produksi:1988
Durasi:
Penghargaan: Piala Citra Festival Film Indonesia tahun 1988 sebagai film terbaik, Singapore Film Festival untuk Christine Hakim sebagai aktris terbaik, film Indonesia pertama yang ditayangkan di Cannes Film Festival 1989
Cut Nya’ Dien tak patah arang setelah suaminya Tengku Umar wafat di laga pertempuran dan terus mengobarkan perang sabil, mengusir kape-kape Kompeni itu. Pengkhiatanpun merusak api jihad mereka. Kendati akhirnya Pang Laot, panglimanya, tak tahan akan penderitaan Cut Nya’ Dien hingga ia menunjukkan persembunyiannya ke tentara Belanda. Ia pun ditangkap lalu diasingkan.
November 1828
Aktor :Slamet Rahardjo Djarot, Maruli Sitompul, Sardono w Kusumo, Jenny Rachman,
Sutradara: Teguh Karya
Durasi:148 menit
Genre: Drama sejarah
Penghargaan:
Meraih piala Citra FFI 1979 untuk film, sutradara, fotografi, musik, artistik, pameran pembantu pria (El Manik) piala Dr. AK Gani, dan
Piala Citra FFI 1979 untuk pameran utama pria II (Maruli Sitompul).
Piala akademi sinematografi, FFI 1979 untuk editing II.
Unggulan FFI 1979 untuk skenario pameran utama pria Maruli Sitompul), pameran pembantu pria (Rachmat Hidayat) editing suara.
Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah tradisi masyarakat Jawa yang sangat kental untuk ditindas. Kapten De Borst ( Slamet Rahardjo) indo yang sangat ingin jadi Belanda murni.Di tengah-tengah perang Diponegoro ia berusaha menangkap Sentot Prawiradirdjo, otak peperangan, untuk membuktikan bahwa dirinya prajurit yang hebat. Kisahnya berlangsung di desa Sambiroto pada November 1828. Untuk maksud ini De Borst menggunakan segala cara. Sementara pengikut Sentot menyusun perlawanan dengan sangat licin, bisa memasuki seluruh lapisan pertahanan Belanda dan selalu tahu rencana-rencana Belanda. Konflik antara De Borst dengan Krumaludin (Maruli Sitompul)merupakan puncak ketegangan.De Borst menyandera istri dan anak Krumaludin yang masih bayi untuk mengetahui persembunyian Sentot
R.A. Kartini
Aktor: Yenny Rahman, Adi Kurdi, Nani Wijaya, Andi Auri, Chintami Atmanegara.
Sutradara: Sjumandjaja
Durasi:165 menit
Genre: Drama sejarah
Produksi: PT Nusantara
Kartini, putri Adipati Sosro Kartono dari Jepara itu mulai tersadar akan pentingnya harkat perempuan dalam perjuangan suatu bangsa. Lewat surat menyurat Kartini dengan Tuan dan Nyonya Abendanon-Mandri. Kartini mati muda (21 April 1879-17 September 1904) setelah melahirkan anaknya, R.M. Soesalit. Ia terus menjadi inspirasi bagi siapapun hingga saat ini.
Marsinah
Aktor: Megarita, Dyah Arum
Sutradara: Slamet Rahardjo Djarot
Produksi: PT Gedam Sinemuda Perkasa, Jakarta, 2002
Durasi: 115 menit
Genre: tragedi hukum
Penghargaan:
Film ini masuk nominasi Festival Film Indonesia 2004 dalam tujuh kategori: Film Terbaik; Sutradara Terbaik (Slamet Rahardjo); Aktor Terbaik (Tosan Wiryawan); Aktris Pendukung Terbaik (Megarita); Skenario Terbaik (Agung Bawantara, Eros Djarot, Karsono Hadi, dan Slamet Rahardjo); Sinematografi Terbaik (Yudi Datau); Penata Artistik Terbaik (Berthy Lindia Ibrahim); Hanya Berthy Lindia Ibrahim yang akhirnya berhasil meraih penghargaan.
Buruh PT. Catur Putra Surya (CPS) berunjuk rasa. Para buruh dan petinggi PT CPS yang berdemo ditangkap oleh sejumlah oknum berbaju preman. Seperti yang biasa terjadi di rezim Orde Baru dulu, setiap orang yang diciduk oleh oknum aparat militer kerap mengalami siksaan. Tiga belas orang buruh yang ditangkap, semuanya dituduh PKI, sebuah stigma yang biasa diberikan masa Orde Baru dulu untuk orang-orang yang mengikuti aksi demonstrasi yang dianggap bisa mengganggu stabilitas keamanan nasional.
Mutiari dan rekan-rekannya divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo. Mereka mengajukan banding dan kasasi ke MA yang membebaskan mereka karena tidak cukup bukti. Sementara pembunuh Marsinah yang sebenarnya tak pernah terungkap.
Pramoedya Ananta Toer
Aktor: Pramoedya Ananta Toer
Sutradara: Tim Yayasan Lontar
Produksi: Yayasan Lontar Jakarta.
Genre: biografi, dokumenter
Pram terus berkarya meski rezim Orde Baru pernah memasung kreativitasnya di pulau Buru. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu itulah kesaksiannya. Novel tetraloginya dan seabrek novel lainnya kian menempatkan Pram sebagai novelis realis Indonesia yang diperhitungkan di kancah kesusastraan dunia. “Semua karyaku adalah anak-anak rohaniku,” demikian seru Pram.
Gandhi
Aktor: Ben Kingsley, Candice Bergen
Sutradara: Richard Attenborough
Produksi: 1982
Durasi: 188 menit
Musik: Ravi Shankar, George Fenton
Genre: biografi sejarah
Penghargaan: Meraih 8 piala Oscar dalam Academy Awards tahun 1983 untuk Ben Kingsley (aktor terbaik), Richard Attenborough (sutradara terbaik), Stuart Craig, Robert W Laing, Michael Seirton (penata set terbaik), Billy Williams, Ronny Taylor (sinematografi terbaik), John Mollo, Bhanu Attaiya (desain kostum terbaik), John Bloom (editing terbaik), Richard Attenborough (gambar terbaik), John Briley (naskah terbaik untuk film).
Sebuah film biografi Mahatma Gandhi tokoh gerakan anti kekerasan India melawan imperialis Inggris.
Turtles Can Fly
Aktor: Soran Husein, Allegra Agrin, Sirkhooh Mahmud, Hengov Gaban, Ali Pashow.
Sutradara: Bahman Ghobadi
Produksi: An Iran-Iraq Join Production
Durasi: 98 menit
Genre: drama, perang
Produksi: 2004
Penghargaan: Berlin International Film Festival 2005, Mexico City International Contemporer Film Festival 2005, Rotterdam International Film Festival 2005
Apa yang terbayangkan saat perang Amerika-Irak? Di sanalah anak-anak Kurdistan yang malang bertahan hidup sebagai pengais ranjau dan pemulung rerongsokan artileri perang. Selama 275 hari para tetua kampung gelisah menunggu kabar kapan Si Saddam berakhir. Selanskap kepahitan betapa kejamnya akibat perang.
Not One Less
Aktor: Wei Minzhi, Zhang Huke
Sutradara: Zhang Zimou
Produksi: Beijing New Picture Distribution Company dan Guangxi Film, 1999
Durasi:106 menit
Genre: komedi, drama
Penghargaan: Venice Film Festival 1999 (4 piala untuk Zhang Yimou), Young Artist Award 1999, Sao Paolo International Film Festival 1999, Isfahan International Festival of Film For Children and Young Adults 2001
Di sebuah daerah yang sangat miskin di China, seorang wanita muda diperintahkan untuk pergi ke sebuah desa terpencil untuk menjadi guru pengganti. Gadis pemalu ini ditugasi untuk menjaga agar sekolah tetap berjalan selama satu bulan penuh atau dia tidak dibayar. Dihadapkan pada hutang-hutang keluarganya seorang muridnya yang bermasalah hilang untuk mencari pekerjaan di kota. Guru yang keras kepala ini walau bagaimanapun akhirnya mencari muridnya dan membawanya kembali ke sekolah. Gadis petani yang sangat sederhana ini mengalami penderitaan saat tiba di kota besar dan pada waktu salah satu stasiun televisi di kota itu bersimpati atas keadaannya, pencarian akan muridnya akhirnya membuahkan hasil.
Ibunda
Aktor:Tuti Indra Malaon, Alex Komang, Ayu Azhari, Ria Irawan, Niniek L Karim, Galeb Husein
Sutradara:Teguh Karya
Musik: Idris Sardi
Produksi: PT Nusantara Film, PT Suptan Film, 1986
Durasi:103 menit
Genre: drama
Penghargaan: meraih 9 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 1986
Film ini menceritakan sebuah kisah di kota Jakarta, ketika Ibu Rakhim (Tuti Indra Malaon) seorang janda priyayi, menghadapi dua masalah terpisah dalam keluarganya. Fitri anak perempuan bungsunya, mempunyai pacar Luke (Alex Komang) yang dibenci oleh Farida (Niniek L. Karim), kakak Fitri, dan suaminya yang kaya dari kalangan bangsawan Jawa, Gatot, karena Luke adalah seorang Papua bukan Orang Jawa. Pada saat yang bersamaan anak laki-lakinya, Fikar, meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk tinggal dengan seorang artis. Film ini berusaha menunjukkan sisi psikologi dari seorang ibu dan hubungan moral diantaranya dalam menyelesaikan masalah keluarganya.
I Will (Sapardi Djoko Damono)
Aktor: Sapardi Djoko Damono
Sutradara: Tonny Trimarsanto
Produksi:Yayasan Lontar jakarta, 2004
Durasi: 24 menit
Genre:dokumenter
Sapardi Djoko Damono (lahir 20 Maret 1940 di Surakarta) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya Sapardi Djoko Damono.
Dead Poets Society
Aktor: Robin Williams, Ethan Hawke
Sutradara: Peter Weir
Produksi: Touchstone Pictures, 1989
Durasi: 128 menit
Genre: drama
Penghargaan: Meraih piala Oscar dalam Academy Award 1990 untuk Tom Schulman sebagai naskah asli terbaik, Warsaw International Film Festival 1990.
Berkisah tentang sosok Professor Keating (Robin Williams) guru bahasa Ingris di sebuah sekolah konservatif tahun 1959. Metode barunya dalam mengajar sastra membuat para murid terinspirasi membuat perubahan dalam sikap hidupnya.
My Left Foot
Aktor: Daniel Day Lewis ,Brenda Fricker
Sutradara:Jim Sheridan
Produksi: 1989
Durasi:103 menit
Genre:biografi, drama
Penghargaan: 2 piala Oscar tahun 1990 untuk Daniel Day Lewis sebagai aktor terbaik dan Brenda Fricker sebagai aktris pendukung terbaik, 3 piala dari Montreal World Film Festival 1989.
Berdasarkan kisah nyata dari Christy Brown, seorang Irlandia yang terlahir dengan cerebral palsy, dimana dia hanya dapat menggerakkan kaki bagian kiri. Toh pada akhirnya dia dapat mengatasi keterbatasan fisiknya, menjadi penulis dan pelukis.
Life is Beautiful
Aktor:Roberto Benigni, Nicoletta Braschi
Sutradara: Roberto Benigni
Produksi:Miramax Films, 1997
Durasi: 116 menit
Genre: komedi
Penghargaan: Grand Prix Cannes Film Festival 1998, Academy Award for Best Foreign Language Award 1999.
.Tentang seorang Italia keturunan Yahudi bernama Guido Orefice (diperankan sendiri oleh Roberto Benigni, sutradara film ini), bagaimana harus belajar menggunakan imajinasinya untuk membantu putranya agar tetap survive dalam lokasi kamp konsentrasi Nazi. Sebuah pendekatan humor yang cerdas dan memikat.
Ran
Aktor : Tatsuyai Nakada, Akira Terao, Mieko Harada
Sutradara : Akira Kurosawa
Produksi : 1985
Durasi: 160 menit
Genre:Action, drama, perang
Penghargaan: Academy Award 1986 untuk desain kostum terbaik, Blue Ribbon Awarad 1986 untuk film terbaik.
Mengisahkan sosok Hidetora Ichimonji di masa kejatuhannya. Juga intrik ketiga putranya dalam memperebutkan harta warisan. Terinspirasi dari karya tragedi William Shakespeare: King Lear.
The Seven Samurai
Aktor : Toshiro Mifune, Takashi Shimura
Sutradara: Akira Kurosawa
Produksi: Toho Company, hitam putih, 1954
Durasi: 207 menit
Genre: action, drama, petualangan
Penghargaan: Silver Lion Venice Film Festival 1954 untuk Akira Kurosawa.
Mengambil setting tahun 1587/1588 di sebuah desa petani dimana tujuh samurai ikut membantu untuk menghalau penjahat yang mengganggu keamanan penduduk.
Dreams
Aktor : Martin Scorsese, Mieko Harada, Akira Terao
Sutradara: Akira Kurosawa
Produksi:Warner Bros Pictures, 1990
Durasi: 119 menit
Genre:drama, fantasi
Penghargaan: Awards of the Japanese Academy 1991.
Merupakan impian-impian Akira Kurosawa-sutradara film ini– dalam kehidupan nyata. Terbagi dalam 8 fragmen yang memikat.
Kagemusha
Aktor : Tatsuya Nakadai, Tsutomo Yamazaki
Sutradara: Akira Kurosawa
Produksi: Kurosawa Production Co., 1980
Durasi: 179 menit
Genre: drama, sejarah
Penghargaan : Golden Palm Cannes Film Festival 1980 untuk Akira Kurosawa, Blue Ribbon Awards 1981 untuk Tatsuya Nakadai (aktor terbaik), Akira Kurosawa (film terbaik), Daisuke Ryu (aktor pendatang baru terbaik).
Merupakan film kerjasama antara Akira Kurosawa dan dua sutradara ternama Hollywood:Francis Ford Coppola, George Lucas.
Rashomon
Aktor : Toshiro Mifune, Machiko Kyo
Sutradara: Akira Kurosawa
Produksi: Daiei Motion Picture Company, 1950, hitam putih.
Durasi: 88 menit
Genre:misteri, triler
Penghargaan: Venice Film Festival 1951 untuk Akira Kurosawa.
Berdasarkan pada dua kisah karya Akutagawa Ry?nosuke (Rashomon dan Yabu no Naka ). Rashomon bercerita tentang sebuah tindak kejahatan (sebuah pemerkosaan dan pembunuhan) melalui empat sisi yang berbeda seperti yang diceritakan oleh keempat saksi matanya, termasuk sang pelaku. Rashomon adalah salah satu dari tiga film di mana Kurosawa bekerja sama dengan sinematografer hebat Kazuo Miyagawa.
Kisahnya diceritakan melalui kilas balik di mana keempat tokoh tersebut - sang bandit Tajomaru (Mifune), sang samurai Takehiro (Mayasuki Mori), istrinya Masako (Machiko Ky?), dan sang pemotong kayu tanpa nama (Takashi Shimura) - satu per satu menuturkan kejadian yang terjadi pada hari itu. Setiap cerita jauh berbeda antara satu sama lain sehingga penonton tidak dapat menentukan kebenaran dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Konsep film ini telah menjadi pengaruh yang penting bagi film-film lainnya setelah itu. Pada tahun 1951, Rashomon menerima Penghargaan Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.
Tempat pelaksanaan:
Program Gratis 6 Bulan Nonton Film akan dilaksanakan di Community Learning Center (PKBM) Harapan Jl A Yani 07 Kasiyan Pohkecik Dlanggu Mojokerto Jatim. Dari tanggal 8 Maret hingga 30 Agustus 2008. Setiap Sabtu pukul 19.00 wib s.d. selesai.
Penyelenggara:
Komunitas pecinta film Maja van Java Cinema Club Mojokerto bekerja sama dengan Community Learning Center (PKBM) Harapan Pohkecik, Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
Kontak person:
1.Ema ‘Eminx’ Sujalma, 0321- 510165, 081 586 366 991, email:sujalma@gmail.com.
2.Fahrudin Nasrulloh, email:surabawuk@gmail.com.
3.Abdul Malik 081 80 3230 472, email:banyumili@telkom.net.


