Tidak semua perbuatan jelek mempunyai tujuan tidak baik, seperti yang dilakukan Raden Said (diperankan Mujiadi Zakaria). Terkadang merampok, mbegal untuk disumbangkan pada orang yang tidak mampu. Termasuk mencuri harta orang tuanya hasil dari memeras masyarakat.

Sifat tersebut membuat Sunan Bonang (diperankan Budi Kentut) tertarik dan mengangkat Raden Said sebagai muridnya, selanjutnya diangkat menjadi anggota Wali Songo dengan bergelar Sunan Kali Jogo.

Itulah sekelumit cuplikan Lakon Raden Said yang kemarin dimainkan Ludruk Karya Budaya dalam acara gladi bersih menjelang pementasannya 1 Mei mendatang. Acara yang akan digelar di halaman Sekretariat DKM Jl Gajah Mada, Kota Mojokerto itu sekaligus dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei.

Untuk kali pertama, sebuah kelompok ludruk di Mojokerto mendapatkan apresiasi sebuah production house (PH) ibukota untuk direkam. “Kita kerja sama dengan Global Production untuk memproduksi ludruk dengan dua lakon,” kata Eko Edy Susanto, pemilik ludruk Karya Budaya.

“Ini patut disambut baik. Karena ludruk selama ini lebih banyak dikenal orang desa. Dan sekarang, mulai diapresiasi warga ibukota,” ungkapnya.

Selain akan menampilkan Lakon Raden Said di atas, karya Budaya juga diminta untuk mengambil Lakon Branjang Kawat. Dikisahkan pada lakon ini Subakri (diperankan Mujiadi Zakaria) yang dibantu kakaknya Markasan (diperankan Muzet) dengan tipu muslihat membujuk Marpu’ah (diperankan Ririn) yang suaminya di penjara, agar mau dijadikan istri Subakri. Bahkan, setelah kedoknya terbuka, dia malah nekat membunuh suami Marpu’ah (Branjang Kawat yang diperankan Sukis). Kenekatan tersebut membuahkan hasil. Ngunduh wohing pakarti) R Jurang Penatas (anak Branjang Kawat, diperankan Agus) tidak terima dan menuntut kematian bapaknya.

“Untuk lakon yang kedua ini memang permintaan PH. Karena ternyata, banyak masyarakat yang klangenen ingin menyaksikan ludruk dengan tema ini,” jelas Cak Edy Karya.

Untuk satu lakon, jelas Cak Edy, durasi yang dibutuhkan selama dua jam. Rencananya, lakon yang tampil pertama adalah Raden Said yang dimulai pukul 21.00. Dilanjutkan lakon Branjang Kawat pada pukul 23.00 sampai selesai. “Ya, semoga tidak sampai pukul 21.00 sudah dapat dimulai,” ungkapnya.

Dipilihnya tempat di halaman sekretariat DKM ini, kata Edy, karena kegiatan ini juga kerja sama dengan DKM Kota Mojokerto dan Dinas P dan K. “Soal tempat, sebenarnya kita khawatir nanti tidak cukup. Tetapi, karena kegiatan ini juga didukung DKM, kami pilih lokasi di sini,” katanya.

Selain itu, kata Edy, pihaknya ingin agar ludruk tidak hanya dilihat warga desa seperti yang selama ini dilakoninya. Sebab, pencinta ludruk sebenarnya juga banyak yang tinggal di kota. “Kita ingin juga menghibur warga kota. Karena tontonan ini nantinya gratis,” ujarnya.

Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos Group)