Sat 23 Feb 2008
Kunjungan Penyair Saut Situmorang ke Dewan Kesenian Mojokerto
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: SeniKemiskinan Tidak Perlu Diromantiskan atau Diabstrakkan
Sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990-an adalah politik. Para penyair 1990-an tidak lagi tabu atau malu-malu untuk mempuisikan politik, mempolitikan puisi, malah justru pada periode inilah puisi politik mencapai puncak ekspresi artistiknya yang melampaui apa yang sebelumnya dikenal sebagai sajak-protes dan pamflet-penyair.
ITULAH sepenggal petikan yang disampaikan Saut Situmorang pada acara Baca Puisi dan Diskusi Buku Otobiografi di Dewan Kesenian Kota Mojokerto (DKM), kemarin malam.
Para penyair asal Mojokerto pun tampak antusias membacakan puisi Saut Situmorang di hadapan penyair kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 29 Juni 1966. Antara lain, Saiful Bakri (biro sastra DKM) dengan puisi Potret sang anak muda sebagai penyair protes, Abdul Malik (Banyumili) membacakan puisi catatan subversif tahun 1998 (disebabkan oleh Wiji Thukul).
Tepuk tangan pun menggema perlahan. Kemudian hening. Saut Situmorang pun tampil dengan lima puisinya. Penyair yang saat ini tinggal di Yogyakarta membacakan puisinya, 1966 (buat gitaris Jimi Hendrix), Blues untuk Jogja, Demikianlah, Buat Fikar (penyair Aceh), dan Parabel (mengenang Munir).
Pada sela-sela berpuisi, Saut pun tak lupa berujar laiknya sebuah orasi budaya. Ia banyak berkisah tentang puisi tahun 1990-an, tempat dirinya muncul. Menurutnya, penyair 1990-an tidak lagi tabu atau malu-malu untuk mempuisikan politik, mempolitikan puisi, malah justru pada periode inilah puisi politik mencapai puncak ekspresi artistiknya.
“Seperti pada puisi Wiji Thukul. Pada puisi politik penyair seperti Wiji Thukul kita melihat betapa kemiskinan tidak lagi diromantiskan sebagai semacam ’hidup alternatif’ dari materialisme kota’ atau diabstrakkan menjadi sekedar ’teori pembangunan yang tidak membumi, tapi merupakan pengalaman hidup sehari-hari yang harus dihidupi sang penyairnya sendiri. subyektifitas pengalaman adalah realisme baru dalam puisi politik penyair 1990-an,” katanya.
Langit halaman DKM di Jl Gajah Mada No 149 tampak tenang. Cuaca yang bersahabat ini semakin erat ketika Darto Kuswandi menampilkan musim pembuka. Setelah itu Gatot Sumarno mewakili pengurus DKM memberikan sambutan.
Kedatangan Saut Situmorang ke Mojokerto ini didampingi Halim HD, networker kebudayaan dari Forum Pinilih Solo. Saut Situmorang melakukan diskusi buku dan baca puisi di 12 kota dan 3 propinsi. Sebelum di Mojokerto, acara diskusi Buku dan Baca Puisi Otobiografi telah diadakan di Ngawi, Surabaya, Malang, Bojonegoro.
Setelah baca puisi diadakan diskusi dengan makalah berjudul Tradisi dan Bakat Individu. Diskusi berjalan gayeng antara lain dihadiri Bapak Koesen LD pengelola Padepokan Bumi Pakarti Aji (Pacet), Ribut Sumiyono (pematung batu, Trowulan), dan sejumlah perupa dari Dlanggu dan Mojosari. Acara ini pun baru usai pada pukul 22.23. (khoirul inayah)
Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos Group)



February 23rd, 2008 at 12:32 am
Bang Saut Situmorang, semoga saja kau baca postinganku kali ini. Aku bangga menjadi temannmu ketika kau di Bali. Saat itu kau hijrah dari New Zealand. Kurang lebih 1 tahun kau habiskan waktu untuk merambah dunia sastra melalui cyber. Yup, setiap malam kau selalu mengunjungi Efata Internet Cafe, tempat aku kerja menjaga pelanggan warnet. Kau adalah pelanggan kami yang setia waktu itu. Menghabiskan uang banyak untuk sewa warnet, meninggalkan banyak botol minuman, kulit sisa-sisa makanan. Bila motormu kadang ngadat, motorku selalu setia antar kau pulang, sampai larut. Bung Saut Situmorang, senang bisa melayani sastrawan besar seperti engkau. Salam dari Bali.