Kotak Bertenaga Surya Itu Bisa untuk Menanak Nasi
Kian rumitnya persoalan energi yang melilit kebutuhan sehari-hari, menjadi salah satu motivasi Sarli, 40, warga Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto untuk berinovasi. Dia mencoba berbagai upaya untuk menciptakan energi alternatif, pengganti minyak tanah dan kayu bakar.

ALAT menanak nasi itu terlihat unik. Berbentuk kotak, dari kayu dan berukuran sekitar setengah meter. Tak hanya itu, alat itu juga dilengkapi kaca disampingnya yang sepintas mirip cermin untuk berhias. Namun ternyata bukan. Cermin itu berfungsi untuk memantulkan cahaya dari langit. Cahaya matahari.

Yang unik, dengan pola tak terlalu rumit, kotak itu berfungsi sebagai alat menanak nasi.

Setelah sekitar setengah menunggu, panas dari pantulan dari cahaya matahari yang tertampung di kotak itu sudah bisa mematangkan nasi di dalamnya. Sangat sederhana. “Panas yang dihasilkan juga tak terlalu berbeda dengan panas ketika memasak dengan kompor atau kayu baker,” ujar Sarli, 40, pemilik energi alternative sebagai bahan baker minyak dan kayu baker asal Seloliman Kecamatan Trawas ini. Menurutnya, energi matahari lebih alam dan panasnya terjaga. “Alam memang memberikan yang terbaik, sama sekali tak berbahaya dan tak ada polusi,” katanya.

Energi alternatif itu, kata Sarli diberi nama Solar Box Cooker (memasak dengan tenaga surya). Inovasi ini, katanya berawal dari keprihatinan kian maraknya problem energi yang terus-menerus mendesak kebutuhan hidup manusia. “Krisis energi terus terjadi, ini tak hanya dirasakan oleh kita-kita kaum ekonomi lemah, namun sudah menjadi problem dimana-mana,” katanya.

Berawal dari itulah, pria petani yang aktif dalam kelompok pecinta lingkungan hidup di Seloliman Trawas ini mencoba memeras otak. Berbekal pelatihan-pelatihan dan pengalaman yang diserapkan dia menjajal menciptakan energi tenaga surya yang murah dan sederhana ini. “Dibantu teman-teman, terus belajar dan mencoba, hasilnya seperti ini,” kata Sarli.

Memang belum maksimal, namun setidaknya dengan alat kreasinya ini, problem rumah tangganya untuk kebutuhan dapur sedikit teratasi. “Kalau misalnya tak ada minyak atau kayu baker, ya pakai alat ini, kalau ingin air hangat bisa dengan alat ini,” katanya tersenyum.

Bapak dua anak ini menyebut Solar Box Cooker sangat ramah lingkungan. Bahan yang digunakan bisa dari karton supaya tahan lama. Atau bisa menggunakan kotak kayu dengan dilapisi alumunium foil dan plat baja agar cepat panas.

Secara ringkas Sarli memaparkan cara kerja sebuah reflektor dengan daya tangkap sinar matahari ekstra yang juga akan berfungsi sebagai penutup atau jendela solar bok. Jendela yang terang tersebut selebar bagian solar oven memungkinkan sinar matahari masuk, Panci berwarna gelap yang tertutup dengan penampan gelap mengubah sinar matahari menjadi panas. Bok yang disekat menjadi panas untuk memasak makanan dalam panic.

Bagian bok yang mengkilap mamantulkan cahaya ke panci tertutup dan gelap serta penampan dasar yang juga gelap dimana energi sinar menjadi panas, sisi mengkilapnya juga menyediakan sebuah rintangan yang lembab untuk tetap kering.

“Dengan adanya krisis energi membuat dirinya harus memanfatkan potensi alam yang ada, enegi itu tidak harus dari minyak saja,” kata Sarli. Namun bukan berarti alat ciptaannya ini bukan tanpa kelemahan. “Kalau malam hari atau hujan, jelas tak bisa dimanfaatkan, namanya juga tenaga surya, jadi bergantung bagaimana kondisi sinar matahari,” tandasnya. Untuk membuat alat sederhana ini, Sarli cukup mengeluarkan uang sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Sumber : YANUAR YACHYA (Radar Mojokerto)