Peralatan Pinjam, Bahkan Kostum Seragam Belum Punya
Menjelang pilkada, Wali Kota Mojokerto semakin rajin mengunjungi warganya. Biasanya setiap kali datang ke kelurahan, kelompok musik akustik Oyot Mimang menjadi pembukanya.

Musik akustik berkolaborasi dengan beberapa bunyi lain dari peralatan tradisional mengalun. Ada enam orang tampil dengan membawa peralatan musiknya masing-masing. Dua orang memegang gitar, seorang membawa bas, bongo dibawa pemain lainnya, dan sisanya dua orang membawa biola. Dua personel lain menjadi vokalis.

Itulah penampilan Kelompok Musik Oyot Mimang pada sebuah acara yang mengiringi kehadiran Wali Kota Mojokerto saat datang untuk berdialog dengan warganya. Dua vokalis ini secara bergantian membawakan lagu-lagu yang biasanya cukup lawas. Seperti lagu milik Leo Kristi, Gombloh, The Gembels, Iwan Fals, Kantata Takwa, Suket, Swami. ”Tapi, dalam satu penampilan pasti ada lagu yang sedang populer yang kita bawakan. Seperti Lagu Ketahuan milik Matta Band,” kata Syaiful Bakhri, pimpinan Oyot Mimang.

Tidak jarang, pada saat manggung seperti ini, ada penonton yang request. Terutama lagu-lagu terkini yang dikuasai banyak orang. ”Ya, tetap kita layani. Kita malah senang, berarti kita bisa menghibur orang dan membuat orang lain senang. Apalagi kalau ada yang maju dan tampil bareng kita,” ungkap Bakhri yang juga pengurus DKM ini.

Perjalanan Oyot Mimang tidak mulus sampai dipercaya untuk menjadi musik pengiring kunjungan wali kota.  Ketika itu, kata Bakhri, sekitar tahun 2004. Awalnya kru berkumpul di Sanggar Seni Saraswati di Jl Hayam Wuruk (sekarang sanggar tersebut tutup).

Akar Mojo adalah nama yang dipilih waktu itu. Selanjutnya, kru berlatih lagu-lagu karya Mas Er yang bernuansa akustik dan country. ”Undangan pertama pada pesta pernikahan seorang kawan di Jalan Bancang. Honornya berupa kaos sekitar 7 buah dan tak ada yang sama,” kata Bakhri bernostalgia.

Tak lama, rezeki mengalir seperti air. Datang undangan dari salah satu sponsor untuk tampil pada pentas keliling Ngamen on the street. ”Honor sudah lumayan, selain kita jadi lebih dikenal masyarakat luas,” ujar dia.

Meskipun sudah dipercaya sponsor, tak lama setelah itu, Akar Mojo membubarkan diri. Namun, bukan bubar sama sekali, hanya berganti nama saja. Lalu, dipilihlah nama Oyot Mimang.

Mengapa? ”Secara harfiah Oyot Mimang berarti orang yang tidak tahu jalan keluar menuju dari sebuah permasalahan atau orang yang tersesat,” kata Bakhri berfilosofi.

Oyot Mimang sendiri sebagian orang Jawa diartikan miming lan mamang. Dengan maksud, ketika menjalani hidup janganlah bersikap miming lan mamang (ragu-ragu) biar tidak hilang. ”Hilang apanya? Hilang iman dan Islam-nya,” kata Bakhri lagi.

Oyot Mimang sendiri saat ini menawarkan lagu-lagu yang sepertinya sudah dilupakan orang, Juga lagu-lagu karya sendiri yang lirik-liriknya merupakan potret kekinian dari masyarakat kita. ”Semacam musikalisasi puisi. Namun, yang terpenting lagi ya menghibur masyarakat,” kata Bakhri.

Bak gayung bersambut. Wali kota melalui Dinas Infokom menghubungi Anis Sutomo, wakil ketua Dewan Kesenian Kota Mojokerto meminta satu kelompok musik untuk tampil mengiringi wali kota. ”Lalu, Ibu Anis Sutomo menghubungi saya. Tentu saya sambut dengan gembira,” kata Bakhri tentang keterlibatan Oyot Mimang sebagai musik pengiring wali kota.

Uniknya, meskipun sudah mulai dikenal, kelompok musik ini belum memiliki peralatan sendiri. Saat ini, hanya ada 2 gitar yang dimiliki. Sedangkan instrumen lain, seperti bongo, bas jeguk, biola masin pinjam dari lembaga lain. ”Bahkan seragam saat tampil pun kita pinjam,” aku Bakhri.

Untuk menjaga performa tim, minimal seminggu sekali mereka berlatih bersama. Frekuensi ini akan ditambah apabila ada lagu baru yang perlu diaransemen. (yr)

Sumber : KHOIRUL INAYAH, Radar Mojokerto