Sugeng Siswoyudono, 46, penyandang cacat dengan satu kaki asal Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto patut berbangga. Kaki palsu buatannya mendapatkan apresiasi tinggi dari Bupati Mojokerto Suwandi. Sehingga dinyatakan sebagai produk unggulan daerah dan akan difasilitasi untuk promosi keluar daerah bersama produk andalan lainnya.

”Semaksimal mungkin kita akan membantu promosi dan pemasaran produk kaki palsu,” ujar Bupati Suwandi, kemarin. Setiap ada pameran produk unggulan daerah, pihaknya akan menyertakan kaki palsu sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Mojokerto. Baik dalam pameran yang berskala regional maupun nasional. ”Ini dapat menjadi salah satu ikon Kabupaten Mojokerto,” terangnya.

Karena selama ini, kaki palsu buatan Sugeng telah merambah sebagian besar wilayah nusantara. Bukan hanya dari Jawa, pemesan kaki palsu Sugeng juga banyak yang datang dari luar pulau. Sugeng menerapkan standar pelayanan cukup baik. Selain tidak mematok harga, dirinya bahkan kerap memberikan secara cuma-cuma kaki palsu buatannya. ”Maklum, niat awalnya memang ingin membantu sesama,” tutur pria yang kehilangan kaki kanannya sejak tahun 1981 ini.

Semua itu tidak berubah meski kini dirinya telah memiliki lima orang karyawan. Mei kemarin dirinya juga telah ditunjuk Kementerian Riset dan Teknologi (Menristek) untuk melaksanakan program pembuatan 1.000 kaki palsu dengan anggaran mencapai Rp 2 miliar yang akan dibagikan secara gratis untuk penyandang cacat. Bahkan dia juga telah menjadi selebritis, setelah tampil sebagai salah satu bintang iklan minuman berenergi di layar kaca.

”Tapi saya tetap bakul susu,” ujarnya merendah. Sehari-hari, selama belasan tahun, bapak tiga anak ini memang mengais rejeki dengan berjualan susu sapi. Awalnya, dia membuat kaki palsu hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri yang kerap berganti-ganti kaki palsu lantaran sering rusak. Juga untuk membantu sesamanya yang membutuhkan.

”Dia sangat inspiratif,” ujar Suwandi. Kepribadiannya dinilai sangat kokoh. Ditengah keterbatasan, dia tidak menyerah. Justru merajut karya yang dapat membantu sesamanya. Sekaligus membanggakan bagi orang-orang dekat dan keluarganya. Bahkan secara ekonomi dapat mencipatakan lapangan kerja bagi para tetangganya. ”Dengan karyanya dia juga telah mengangkat nama daerah,” terangnya. Sehingga selayaknya daerah memfasilitasi pengembangan produk Sugeng.

Suwandi berharap semua pemuda meneladani Sugeng. ”Para pemuda khususnya yang normal seharusnya termotivasi untuk membuat karya yang lebih baik,” terangnya. Demikian pula untuk generasi muda yang memiliki keterbatasan. ”Jangan menyerah apalagi putus asa. Bergurulah pada Sugeng,” ujarnya. Yang tetap mampu berkarya meski memiliki keterbatasan fisik. Kunci seseorang ada pada mental, semangat sekaligus motivasinya. (jif/yr)

Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos Grup)