Thu 18 Oct 2007
Jelang Syuting Laksamana Cheng Ho, Tumpengan di Tanah Majapahit
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: Mojopahitan , BeritaMantan Menteri PDT Saifullah Yusuf, pemeran Raja Majapahit Wikrama Wardana dalam sinetron Laksamana Cheng Ho bersama rombongan secara mendadak hadir di Trowulan, kemarin. Kedatangannya tersebut erat kaitannya dengan segera dimulainya syuting pembuatan sinetron berdurasi 26 episode tersebut di Indonesia.
Selain lebih memperdalam referensi sejarah Majapahit dengan mengunjungi Pusat Informasi Majapahit (PIM), dirinya juga menggelar tumpengan.
Prosesi selamatan yang digelar secara sederhana di kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) di Trowulan tersebut bertujuan agar proses pembuatan film yang juga dibintangi Yusril Ihza Mahendra memerankan Laksamana Cheng Ho bisa berjalan lancar.
Menurut rencana, syuting pembuatannya bakal dimulai akhir bulan Oktober atau awal November. Dan, jika tidak ada halangan segera bisa diputar di layar kaca pada Februari di enam Negara, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand dan Vietnam. Bahkan, belakangan sedang melobi Turki. “Saya tidak tahu persisnya. Tapi ini bagian saja dari proses. Dan saya diminta mewakili teman-teman sekalian pulang ke Jombang. Kalau gangguan sih tidak ada,” ungkap Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf yang juga Ketua PP GP Ansor ini.
Kendati demikian, dirinya mengaku mendengar kabar kalau ada beberapa pihak yang telah merencanakan pembuatan film Majapahit belum pernah berhasil karena banyak hal, termasuk situasi dan kondisinya. “Karena itu, dengan doa inio (selamatan, Red), kami berharap ini menjadi film Majapahit pertama yang berjalan lancar,” ujarnya.
Selain dirinya bersama rombongan yang saat itu nampak Staf Khusus Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Buntje Harbunangin, penulis naskah AS Laksana, juga sejumlah pengurus GP Ansor dari Mojokerto dan Jombang. Sebelum pemotongan tumpeng oleh Gus Ipul yang diserahkan langsung ke Staf Khusus Menparbud, seluruh yang hadir diajak berdoa bersama-sama.
Maksud selamatan agar pembuatan film berjalan lancar tersebut dibenarkan Sulak, panggilan akrab AS Laksana. Setidaknya hal itu bisa dijadikan bentuk ungkapan permisi sebelum memulai syuting di Indonesia. Meskipun, menurut rencana Trowulan tidak termasuk ditempati syuting, karena hanya di Jakarta dan Blitar. “Sebelumnya, sudah ada lima orang yang berusaha membuat film cerita Majapahit. Namun, ke lima-limanya gagal. Karena itu, kami berharap dengan selamatan ini bisa lancar,” katanya.
Di akhir kedatangannya di Trowulan, baik Cak Ipul maupun Sulak mengakui adanya banyak tambahan setelah melihat barang-barang peninggalan Majapahit di Mosium. Termasuk diantaranya, bentuk rumah, dan peninggalan Cheng Ho di bidang pertanian.
Dijelaskan Sulak, cerita tersebut diawali tahun 1405, ketika Laksamana Cheng Ho berkeliling, terutama ke Asia dan Asia Tenggaran. Saat Cheng Ho sampai di Blambangan, sedang terjadi perang Paregreg antara Raja Wira Bumi dan Wikrama Wardana, Raja Majapahit. Seterusnya hingga tutup cerita tahun 1424. “Saat ini kami masih terus hunting lokasi,” terang Sulak.
Sementara itu, selama berada di Mosium atau Pusat Informasi Majapahit (PIM), rombongan Gus Ipul terus didampingi Ari Sofiani, Kapokja PIM. Satu per satu benda peninggalan sejarah Majapahit yang dilihat Ketua PP GP Ansor tersebut dijelaskan cerita yang melatarbelakanginya. (abi)
Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos)






