Jadi Saksi Sejarah Penjajahan Jepang, Kondisinya Tidak Terawat
Goa Putuk Kursi dikenal sebagai salah satu peninggalan zaman penjajahan Jepang. Goa ini menjadi tempat persembunyian zaman. Bahkan, menjadi tempat tentara Jepang menyekap perempuan-perempuan desa.

Lokasi goa Putuk Kursi berada tak jauh dari pemukiman warga Desa Sendi, Kecamatan Pacet. Sekitar 300 meter dari perkampungan yang dihuni 235 jiwa itu. Terlihat sepi, namun tetap bermakna sejarah bagi warga Sendi.

Bila melihat kondisinya saat ini, goa Patuk Kursi yang dibangun pada tahun 1944, terlihat kurang terawat. Banyak coretan tulisan dan lukisan tanda tangan yang menempel di mulut gua. Mulut goa yang hanya ditutup menggunakan gedhek (anyaman bambu) yang dikunci menggunakan gembok, membuat banyak orang mudah masuk ke dalamnya.

Goa yang berada di bawah kaki bukit Welirang itu tampaknya belum banyak orang yang tahu, bahwa goa yang memiliki dua mulut pintu yang berada di sisi barat dan timur memiliki nilai sejarah tinggi. Hanya saja saat beberapa warga ketika dimintai keterangan mengenai goa tersebut, cuma Parlan yang dapat bercerita banyak.

Pria yang kini usianya menginjak 90 tahun itu mengaku tahu persis bagaimana sejarah keberadaan goa Patuk Kursi tersebut. Bahkan dia mengaku sebagai salah satu saksi hidup yang turut membangun goa semasa penjajahan Jepang. “Goa itu dibangun pada zaman tentara Jepang oleh para pekeja paksa (romusha, Red),” kata Parlan saat ditemui di rumahnya yang berdekatan dengan makam Sendi.

Dengan tangan memegang sebatang rokok, pria yang senang mengenakan blangkon ini lantas menceritakan sejarah goa, dibangun penjajah Jepang yang difungsikan sebagai tempat perlindungan. “Juga digunakan untuk menyimpan alat perang dan kebutuhan hidup,” kata Parlan.

Sejenak dia melihat bangunan rumahnya yang terbuat dari kayu jati. Dia terus mengingat bagaimana persis bentuk goa itu. Bapak 10 anak ini menjelaskan goa patuk kursi yang dibangun oleh para romusha (bekas para tahanan kalisosok Surabaya) memiliki kedalaman sekitar 20 meter, panjangnya mencapai 150 meter lebih.

Sejak awal bangunan goa tanpa mengunakan penyangga apa pun. Dan hanya mengandalkan akar pohon sebagai fungsi menahan tanah. Goa itu juga memiliki puluhan pintu. Di depan goa, dulunya terdapat sebuah bangunan rumah semi permanen yang berfungsi untuk sebagai tempat singgah petinggi tentara Jepang. “Mulanya pintu goa cukup banyak, tapi karena banyak pohon yang ditebang, kini hanya dua pintu yang masih bertahan,” ujar Parlan.

Menurutnya goa tersebut juga dibangun puluhan kamar dan ruang rapat yang dilengkapi kursi dan tempat tidur. Maka tidak heran bila Parlan tahu persis fungsi kamar tersebut yakni digunakan untuk memperbudak perempuan-perempuan desa dan romusha yang masih perawan. “Menjelang pukul 16.00-15.00 banyak tentara Jepang yang membawa masuk perempuan ke dalam gua,” katanya terus mengingat-ingat.

Sedangkan untuk ruang rapat yang posisinya berada tepat di tengah goa acapkali digunakan untuk mengadu kecerdasan pemuda desa, seperti kecerdasan menulis, menghitung dan berperang. “Bagi mereka yang menang diberi hadiah sebuah pakaian dan ucapan menggunakan bahasa Jepang bakero (makian, red) yang oleh tentara Jepang dikatakan sebagai pujian, hebat kamu,” terangnya seranya mengacungkan jempol. Warga desa tak mengerti jika kata-kata Jepang itu justru memperolok mereka.

Hadiah pakaian tersebut pada saat itu merupakan kebutuhan mewah bagi masyarakat saat itu. Maklum selama dijajah Jepang warga hanya mengandalkan bagho (karung) yang digunakan untuk pakaian.

Dengan kondisi goa yang saat ini tidak terawat mantan tentara pesindo sekarang tentara republik ini mengaku tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya saja dia mengharapkan agar goa yang diyakini warga Sendi cukup mistis dapat perhatian dari Pemkab Mojokerto agar terjaga dan terawat.

“Karena goa itu (Putuk Kursi) merupakan salah satu bukti sejarah, ada baiknya pemerintah mau merawat dan menjaganya,” katanya. (*/yr)

Sumber : MOCH. CHARIRIS (Radar Mojokerto)