Dari Talkshow Mengatasi Obesitas dengan Benar

Memiliki tubuh yang subur ternyata cukup berisiko terhadap beragam penyakit. Karena itu, kegemukan atau obesitas harus ditangani dengan benar untuk meminimalkan resiko tersebut.

Hal ini dikatakan oleh dr Alfian Chandiardy Akp (medical acupuncturist) pada acara Talkshow Mengatasi Obesitas dengan Benar yang digelar Klinik Tarakan dan Agape Diagnostic Center Jumat malam (1/8) di Royal Regency Swimming Pool.

”Sangat banyak penyakit yang terjadi sebagai akibat dari kondisi obesitas. Terutama penyakit degeneratif seperti diabetus militus, stroke dan lain-lain,” kata dr Alfian.

Karena itu, perlu diketahui tanda-tanda yang mengarah kepada kegemukan. Antara lain, lingkar pinggang yang melebihi 80 cm untuk perempuan, atau 90 cm untuk laki-laki, trigeserida lebih dari 150 mg/dl, HDL untuk laki-laki kurang dari 40 mg/dl dan perempuan kurang dari 50 mg/dl, tekanan darah lebih dari 130/85 mmHg serta glikosa darah lebih dari 100 mg/dl. ”Kalau sudah ada lampu kuning seperti ini, tolong segera diperiksakan diri,”kata dr Alfian.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Setidaknya ada 4 jalan yang bisa ditempuh. Pertama, melalui terapi diet. Terapi ini bisa berupa terapi diet deficit energi seimbang. Yakni, dengan mengurangi asupan kalori sebesar 500-600 kkal per hari. Namun tetap dengan menyeimbangkan asupan nutrisi yang masuk, yakni 20-30 persen lemak, 15 persen protein dan 55-60 persen karbohidrat. ”Ini misalnya mengurangi nasi putih tiga sampai 4 sendok makan setiap kali makan,” katanya pada talkshow yang bekerja sama dengan Radar Mojokerto ini.

Juga bisa ditempuh dengan diet rendah lemak tinggi karbohidrat. Program ini cocok untuk program pemeliharaan berat badan, penurunan berat badan serta penurunan risiko penyakiy degeneratif.

Kedua, lanjut dr Alfian, yakni terapi farmakologis dengan mengkonsumsi obat-obatan. Hanya ada dua obat yang dianjurkan. Yakni, orlistat dan sibutuamin. ”Berdasarkan penelitian, kedua obat ini aman untuk terapi obesitas,” katanya.

Bagaimana dengan jamu-jamu atau produk lain yang sering dipromosikan selama ini? Dr Alfian menjelaskan, konsumen bisa mengetahui bahayanya berdasarkan gejala yang ditimbulkan. ”Kalau ingin tahu produk tersebut aman atau tidak. Lihat efek sampingnya, misalnya menyebabkan berdebar atau tidak, menyebabkan lemas atau tidak, menyebabkan sering buang air kecil atau tidak. Bikin sering buang air besar apa tidak, atau bikin keringat dingin atau tidak. Kalau efeknya muncul, sebaiknya langsung dihentikan saja. Bahaya,” katanya.

Ketiga, olahraga yang ritmis dan rutin dengan rentang waktu lebih dari 30 menit. ”Misalnya, jalan cepat dalam tempo 1 jam per hari. Atau rutinkan 3-5 kail seminggu selama 1 jam,” katanya.

Keempat, terapi akupuntur. ”Karena tubuh manusia juga perlu keseimbangan yin dan yan dan terdiri dari 5 unsur,” katanya lebih lanjut. (in/nk).

Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos Group)