Tue 20 Nov 2007
Dari Festival Musik Jalanan Disparbud Kabupaten Mojokerto
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: SeniBelajar sambil Bekerja, Sebut Penonton Keliru Penumpang
Musik jalanan kerap kita jumpai dan dengar di atas bus, kereta atau bahkan lampu merah (traffic light). Meski tempatnya harus dicari sendiri, namun untuk memainkan tetap membutuhkan keterampilan. Lantas, bagaimana kalau mereka mengikuti festival?
“Ok para penumpang…” Kalimat itu dengan percaya diri dilontarkan vokalis grup Street Boys asal Pandaan Pasuruan, salah satu peserta festival musik jalanan sebelum memetik senar gitarnya yang nampak sudah lusuh.
Mendengar lontaran tersebut dari atas panggung yang disediakan panitia, kontan membuat pengunjung dan peserta lainnya histeris. Terkejut bercampur lucu yang langsung mengundang tawa dan applaus. “Mungkin masih terbawa kalau aktivitas sehari-hari, naik turun bus,” ungkap sebagian pengunjung.
Tak berlanjut lama. Sorak sorai itu langsung terhenti dengan penampilan bagus para pemusik jalanan. Dengan alat yang sudah dibawanya, mereka dengan enjoy membawakan satu per satu lagu. Jauh sekali dari suasana formal. Tak sebatas lagunya yang bebas, pesertanya pun berkonstum bebas dan cenderung apa adanya alias tidak neko-neko.
Diantaranya sejumlah peserta yang tampil, terdapat sebuah grup yang berusaha memberikan warna musik lain. Dengan mengenakan kaos oblong putih dan celana tidak seragam, personel Bintang Delta asal Krian itu mulai melangkah naik pangung. Sekali sentuh, alat musik yang dibawa empat orang itu pun dimainkan.
Musik jalanan yang cenderung keras dengan irama rancak, saat itu tidak muncul. Bintang Delta justru membawakan musik dengan irama keroncong. “Kami sudah main lagu keroncong ini satu tahun. Selama itu, setiap manggung di bus, antara Krian dan Mojokerto, kami selalu memainkan irama kalem ini,” ungkap Riadi, sang vokal.
Dua lagu langsung dimainkan. Diawasi mata para juri, penonton dan pemusik jalanan lainnya, grup ini dengan semangat mengalirkan tembang-tembangnya ke telinga semua yang hadir di Kantor Disparbud Kabupaten Mojokerto. Si Jali-jali dan Bunga Anggrek menjadi lagu pilihan dalam festival itu.
Tak lama usai manggung, Ari, Doan, Rofik, dan Bakti, personel Bintang Delta bersiap mau pulang. Sebelumnya, Ari, panggilan Riadi, sempat mengungkapkan seputar irama musik yang disuguhkan. Selain memberikan warna di blantika musik jalanan, juga mengenalkan keroncong pada para pemuda.
Setidaknya, hal itu sempat terlontar dari pria yang sudah dikaruniai dua anak ini. “Sebenarnya, saya sudah empat tahun bermain musik di atas bus. Namun sebelumnya, memainkan musik seperti biasanya,” ungkapnya sembari mengaku tetap bekerja lain sebagai petani.
Dirinya mengaku, tidak melakukan persiapan khusus untuk mengikuti festival ini. Latihannya saja dilakoni sembari bekerja. Ngamen di atas bus atau keluar masuk gang alias ngampung. “Karena terus memainkan musik, dengan sendirinya mudah bisa,” katanya dan akhirnya meninggalkan lokasi dengan berjalan kaki ramai-ramai. Alat musik gitar, masih nampak bergelayut di pundaknya. Mereka berjalan menuju utara. Mereka telah usai menunjukkan kebolehannya bersaing dengan 18 peserta lainnya. Ada dari Mojokerto sendiri, Kediri, Nganjuk, Pandaan Pasuruan, dan Kertosono. (*)
Sumber : ABI MUKHLISIN (Radar Mojokerto - Jawa Pos)






