Mojopahitan


Karena Kuno, Diberi Nama Warga Sumur Windu

Setelah ditemukan bangunan kuno menyerupai tembok dan puluhan batu umpak, lesung dan lumpang, di area pembuatan batu-bata Dusun/Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang tak terawat, situs lain yang terbengkalai adalah bangunan sumur. Setidaknya di kawasan sumber ekonomi warga setempat terdapat tiga sumur kuno dinamai sumur windu.

Meski lokasinya berpencar namun jika melihat model dan bentuknya banyak kemiripan. Seperti bibir sumur atau batu bata yang sebagai peyangga kedalamalan sumnber air. Bila diamati lokasi sumur tersebut berada di sebelah timur tembok dan dikelilingi oleh batu umpak, lesung dan lumpang yang berserakan. (more…)

Batu Berharga Itu Beralih Fungsi Jadi Penyeberangan

Pengetahuan warga tentang benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit memang cukup minim. Dari mengenal benda dan cara memperlakukan. Manfaat dan cara melestarikan hingga, cara melindungi dan mengamankan. Tidak heran jika di Dusun/Desa Klinterejo, berbagai bentuk dan model situs banyak yang terbengkalai dan tak terawat.

Lihat saja dua batu dengan posisi berdampingan berada di sebuah aliran sungai kecil itu. Ukuranya memiliki lebar 73 sentimeter, tinggi 73 sentimeter dan ketebalan tidak lebih dari 33 sentimeter.

Meski memiliki nilai sejarah dan bernilai tinggi, namun benda keras tak bergerak itu seperti tak berharga. Bahkan letak batu di sungai kecil yang memisahkan antara Desa Panggih, Kecamatan Trowulan dengan Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, sekarang beralih fungsi menjadi tempat pijakan menyeberangan warga sekitar. (more…)

Kuta, Bali - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memastikan proses pembangunan Pusat Informasi Majapahit di kawasan situs Majapahit - Trowulan - Jawa Timur tetap berjalan.Jero Wacik menyatakan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan lokasi pembangunan Pusat Informasi Majapahit dari kawasan situs.Pemindahan dilakukan setelah adanya protes dari para arkeolog yang menilai pembangunan pusat informasi tersebut merusak bangunan situs. Jero Wacik mengakui rusaknya beberapa bagian situs, karena kawasan situs sangat luas, sehingga penggalian ditempat tersebut akan dilakukan secara hati-hati. (more…)

Mojokerto, Kompas - Situs Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sengaja dirusak pemerintah. Di bekas ibu kota Kerajaan Majapahit peninggalan abad ke-13 hingga ke-15 tersebut sedang dibangun Trowulan Information Center atau Pusat Informasi Majapahit seluas 2.190 meter persegi.Peletakan batu pertama dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, 3 November lalu. Meski dalam perjalanannya ditemukan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti dinding sumur kuno, gerabah, dan pelataran rumah kuno, hal itu tak dihiraukan. Tanah terus digali dan benda bersejarah itu dijebol untuk pembangunan sekitar 50 tiang pancang beton Pusat Informasi Majapahit (PIM).

Berdasarkan pantauan pada Minggu (4/1), di beberapa titik, fondasi dari campuran batu kali dan semen telah berdiri di parit-parit galian di situs bersejarah itu. Fondasi tiang beton juga sudah berdiri di beberapa titik. Di sekitarnya, batu bata kuno berukuran besar dan berwarna kehitaman peninggalan zaman Majapahit dibiarkan berserakan. (more…)

Menggugat Kebisuan Intelektual Ilmu Sosial. Oleh Saratri Wilonoyudho

Dugaan perusakan situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto, menjadi perhatian utama dalam dua hari terakhir ini. Sebagai orang yang jauh dari lokasi, saya juga tidak tahu pasti soal kebenaran tuduhan itu.

Yang ingin ditegaskan dalam artikel ini adalah pertanyaan singkat mengapa intelektual -terutama dari jurusan sejarah dan arkeologi- dari beberapa universitas yang selama ini begitu garang berdemo untuk urusan politik justru diam jika masalah yang terjadi berkaitan dengan nilai-nilai ilmu pengetahuan yang menjadi fokus kajiannya saat ini? Padahal, situasi perusakan situs Majapahit diberitakan ”mengerikan” .

Kita sering tercenung, mengapa ketika, misalnya, ada isu lemak babi dalam makanan tertentu, demo yang terjadi begitu heroik. Sebaliknya, jika ada kasus pembalakan hutan atau perusakan lingkungan, mereka diam saja. (more…)

Sejumlah warga Dusun/Desa Watesumpak Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto kemarin (30/10) menemukan sebuah bangunan yang diduga kuat bekas peninggalan Kerajaan Majapahit. Penemuan situs tersebut diketahui setelah warga melapor ke petugas Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Timur.

Bahkan, karena minimnya pengetahuan warga terhadap peninggalan bangunan bersejarah itu, warga tidak langsung melaporkan temuannya yang berada di antara kawasan pembuat batu bata merah. (more…)

Dulu Hobi ke Lokalisasi, Kini Jadi Tukang Bersih-Bersih Makam

Kompleks Pemakaman Syeh Djumadil Kubro, Trowulan tidak saja menjadi tujuan para peziarah, namun juga menjadi jujugan para musafir yang belakang punya masalah. Dari yang suka bermain PSK hingga memendam masalah keluarga. Apa saja yang mereka lakukan di sana?

Tempat pembinaan moral dan spiritual tidak hanya di lembaga pendidikan formal atau pondok pesantren. Namun, lokasi makam para aulia bisa jadi tempat tersendiri bagi mereka yang ingin mengubah perilaku. (more…)

Teka-teki seputar lokasi Kedaton Majapahit mulai terkuak. Upaya penggalian yang dilakukan empat perguruan tinggi di Trowulan, tepatnya di Desa Sentonorejo sedikit membuka tabir penutup selama ini. Hal itu seiring ditemukannya sejumlah bukti dari 36 titik penggalian.

Koordinator ekskavasi dan survei dari tim yang tergabung dalam Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia tahun 2008 (Pati I), Cecep Eka Permana mengatakan, dari bekas reruntuhan yang ditemukan memang menguatkan catatan jika di lokasi penggalian itu pernah berdiri Kedaton Majapahit. ”Tembikar yang kami temukan itu bentuknya tipis dan halus,” katanya. (more…)

Dipasarkan ke Bali dan Prancis, Raup Penghasilan Rp 5 Juta Per Bulan

Sebagai salah satu daerah yang memiliki keterkaitan historis dengan Kerajaan Mojopahit, kawasan Trowulan memang memiliki potensi tersendiri. Tidak hanya potensi di bidang wisata, Trowulan juga memiliki potensi di bidang kerajinan tangan. Salah satunya kerajinan pembuat patung. Patung-patung hasil kerajinan perajin Trowulan itu terdengar hingga mancanegara. (more…)

Sudah Mengatur Konsep Pertanahan dan Pembagian Kekuasaan
Adalah Dyah Krtawijaya (Bhre Tumapel), raja ketujuh Kerajaan Majapahit yang mendapat julukan sebagai Brawijaya III. Pembagian kekuasaan dan wewenang mulai diterapkan pada masa ini. (more…)

Next Page »