Warung bubur Sruntul di Kelurahan Wates, Kota Mojokerto, dekat bantaran Sungai Brantas, bagi warga Kota Mojokerto mungkin sudah tidak asing lagi. Karena warung bubur sruntul milik ibu Saudah ini ada sejak tahun 1989, dan sampai sekarang masih eksis. Di warung Ibu Saudah itu memang khusus menyediakan bubur sruntul. Dengan dibantu anak semata wayangnya Aliman, beserta para kerabatnya. “Kita tidak pernah memiliki pembantu dalam mengelola warung ini. Semuanya kita tangani sendiri dibantu kerabat dekat,” ungkap Saudah.

Walaupun namanya bubur sruntul, namun bubur sruntul milik Ibu Saudah ini terdiri atas 4 jenis bubur. Yakni bubur tepung beras putih, bubur ketan hitam, bubur mutiara dan bubur sruntul. Bubur tepung beras putih dibuat dari tepung beras yang digiling halus. Bubur ketan hitam terbuat dari beras ketan hitam tanpa digiling. Bubur mutiara terbuat dari sagu mutiara. Sedangkan bubur sruntul terbuat dari beras ketan putih yang digiling sampai halus, dan ketika dimasak, dijadikan bentuk bulat kecil-kecil, lalu diberi gula batok (gula yang berwarna cokelat). Dalam menyajikannya, dijadikan satu ke dalam mangkuk, ditambahi dengan air santan yang memasaknya diberi daun pandan agar harum, dan air gula batok, supaya rasanya manis. Lalu, siap dihidangkan dan dimakan.

“Kita sudah mempunyai langganan untuk menyediakan semua bahan-bahan yang dibutuhkan dalam bubur ini di Pasar Tanjung Anyar,” jelas Aliman yang ikut membantu ibunya.

Untuk proses memasak, dilakukan Saudah di warungnya itu. Saudah menuturkan, setiap hari dirinya menghabiskan sekitar 10 kg tepung beras, 2 kg beras ketan hitam, 12 bungkus mutiara, dan 8 kg beras ketan putih. Untuk membuat santan, per hari Saudah menghabiskan 15 butir kelapa, 10 kg gula batok dan 10 kg gula putih. Warung bubur sruntul Ibu Saudah ini cukup laris. Apalagi pada hari Minggu atau libur. Karena bisa dua kali masak dan dua kali dalam menyiapkan bahan. “Pada hari libur kita memang menyiapkan bahan sebanyak dua kali dibandingkan hari-hari biasa. Misalnya hari biasa menghabiskan 15 butir kelapa untuk santan, pada hari libur bisa menghabiskan 30 butir kelapa,” jelas Saudah yang memiliki 4 orang cucu ini.

Bubur sruntul ini rasanya enak, manis, higienis, juga harganya terjangkau. Untuk satu porsi (mangkuk) bubur sruntul harganya Rp 2.500. Sehingga, banyak disukai masyarakat tua maupun muda. Anak-anak pun menyukainya. “Bubur sruntul ini rasanya manis dan bikin kenyang,” tutur Arik, bocah berusia 5 tahun yang berkunjung ke warung ini bersama ibunya.

Di warung tersebut juga melayani pesanan bubur sruntul. “Biasanya yang banyak memesan dari instansi pemerintah dari Kota Mojokerto. Bahkan, ada juga pemesan dari Kabupaten Mojokerto, di antaranya dari Bangsal dan Mojoanyar. Karena mereka sudah lama menjadi pelanggan warung bubur sruntul ini,” ungkap Aliman.

Ketika ditanya apakah ingin mengembangkan usaha warungnya ini? Saudah menuturkan, dirinya ingin agar anak dan cucunya bisa mewarisi usahanya ini. Dia juga mengatakan, sejak tahun 2005 dirinya membuka cabang warung bubur sruntul di Jl Empunala No 601 Kota Mojokerto (Sekar Putih).

“Untuk warung di Empunala, ditangani menantunya (istri Aliman),” ujar Saudah. Warung bubur sruntul Bu Saudah di Kelurahan Wates ini buka setiap hari mulai pukul 05.30 sampai 15.00. Sedangkan warung yang di Jl Empunala buka pukul 06.30 sampai 16.00.

Saat Radar Mojokerto bertanya omzet dari usahanya ini, Saudah dan Aliman mengungkapkan, cukup untuk biaya hidup. “Alhamdulillah, dari usaha warung ini, cukup untuk biaya hidup dan sekolah keempat anak saya,” tutur Aliman. Dari usaha warung bubur sruntul ini, Aliman mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Anak pertamanya akan wisuda pada Mei 2008 ini di ITN Malang. (ret)

Sumber : Radar Mojokerto (Jawa Pos Group)