Sun 20 Apr 2008
Arief Hariyanto, Pegiat Teater asal Mojokerto yang Berkibar di Luar Daerah
Diposting oleh: Penunggu Mojokerto.Info Kategori: SeniPentaskan Beragam Naskah dari Satu Kota ke Kota Lain
Banyak seniman luar daerah yang akhirnya menghabiskan waktunya untuk berkarya di Mojokerto. Namun, ada pula seniman kelahiran Mojokerto yang justru berkibar di luar daerah. Salah satunya Arief Hariyanto yang mengabdikan diri untuk teater di kota dingin Malang.
Masih muda. Pemuda asli Mojosari yang bernama lengkap Arief Hariyanto ini lahir pada 18 Desember 1974. Keaktifanya berkesenian kurang menonjol saat belajar di SMAN Mojosari Mojokerto.
Namun, saat menginjakkan kakinya untuk kuliah di Universitas Islam Malang (Unisma), naluri berkeseniannya muncul. Itupun setelah dua tahun tahun ia tinggal di Kota Malang, tepatnya tahun 1994.
“Saat itu saya menempuh studi pada Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang saya mengenal teater. Kemudian pada 5 Nopember 1995 bersama teman-teman Fakultas Peternakan Unisma mendirikan kelompok teater yang diberi nama Teater Kandang,” jelasnya.
Selang satu tahun kemudian selain aktif di Teater Kandang juga bergabung dengan Teater GagaB Malang. Ia pun turut memprakarsai berdirinya UKM Komunitas Teater Unisma pada tahun 1997. Selain berkecimpung dalam dunia teater pada tahun 1998 bersama kelompok Teater GagaB menekuni bidang musik kontemporer dan mengadakan beberapa kali konser yang bertajuk “Nyanyian Asmara Padamu Negeri”.
Pada tahun 1999, ia bergabung dengan kelompok musik Nyanyian Anak Negeri Malang. Tidak cukup itu, ia menjadi tenaga sukarelawan Lembaga Budaya Desa yang bergerak pada sektor pendampingan seniman topeng Malang pada tahun 2000. “Setelah itu saya bersama dengan teater Kandang sempat membuat Modul Latihan Teater Untuk Siswa SMU pada tahun 2003 serta mengadakan Workshop Pelatihan Pembuatan dan Penerapan Modul Teater di kota Malang, Blitar dan Probolinggo,” katanya.
Berpengalaman pada pendampingan kelompok Musik Nyanyian Anak Negeri, membuat Arief panggilan akrabnya mulai melirik musik sebagai tambatan hatinya selain teater. Toh, musik dan teater masih ibarat dua sisi mata uang yang saling berkait. Tidak mungkin ada teater tanpa musik.
Ia pun kemudian, membentuk Kelompok Musik Hijau yang beraliran Word Music tahun 2003. Kelompok Musik Hijau berada dalam naungan Komunitas Musik ASAP yang merupakan komunitas dari beberapa kelompok musik kontemporer Malang yang bermarkas di jalan Galunggung Malang.”Pada bulan Juni 2003 Kelompok Musik Hijau menjadi salah satu penyaji pada even Surabaya Full Music,” akunya bangga.
Kiprahnya pada dunia teater, membuat universitasnya mengundang Arief untuk menjadi dosen tamu pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mata kuliah Drama pada tahun 2005.
Bersama teater GagaB Malang yang bekerjasama dengan Radio Nederlandt Wereldoemroep Belanda membuat produksi drama radio serta pentas keliling teater di 4 kota Jawa Timur dan Jawa tengah dalam rangka peringatan 400 tahun kelahiran pelukis Rembrant dengan judul “De Randen van De Nachtwact” pada tahun 2006. Sampai saat ini masih aktif sebagai penasehat pada Teater Kandang Malang, masih tercatat sebagai anggota Teater GagaB Malang serta terlibat pada berbagai even kesenian di Mojokerto.
Sudah puluhan pentas teater yang melibatkan Arief ini. Antara lain, Pencarian (T. Kandang) di Unisma 1996, Monumen di PPLH Trawas Mojokerto tahun 1996, Tembokan (T. Gagab + T. Kandang) di SMAN 1 Mojokerto, Kandut (T. Gagab + T. Kandang) di STAIN Tulungagung tahun 2001, Obat Nyamuk Bakar (T. Kandang) di Cak Durasim Sby 2003, Suap (T. Kandang) di Blitar 2003, Aduh (Putu Wijaya) di Societed Yogyakarta 2005, De Randen van de Nachtwacht” (Bies van Ede) di Blitar 2005, De Randen van de Nachtwacht” (Bies van Ede) diCak Durasim Sby 2006 serta Aduh (Putu Wijaya) pada FSS Surabaya 2006.
Sumber : Khoirul Inayah, Mojokerto (Radar Mojokerto)


