Menarik untuk disimak iklim demokrasi di kabupaten Mojokerto tentang pemilihan Bupati Mojokerto yang notabene akan berlangsung di tahun 2010 nanti. Tapi gerak-gerik aksi ’salip-menyalip’ waktu kampanye sudah menghiasi ruang pandang mata antara Mustofa dengan M-Center nya, Bupati Suwandi dan ulama Gus Dim.
Yang saya tahu, para bakal kontestan itu berlaku seperti para selebritis-selebritis di Jakarta sana. Sejauh mata memandang menyisiri jalanan kota Mojokerto, kadangkala bertemu dengan mereka bertengger manis murah senyum di kaca belakang mobil. Mungkin ongkos printing sekarang murah, sehingga tidak ada beban untuk produksi media-media kampanye sebelum waktunya.
Disamping menunjukkan wajah ‘ramah’ nya, para bakal calon itu selalu memberikan himbauan/ajakan positif bagi orang yang kebetulan membacanya. Bagus sih, cuman apakah itu relevan jika pesan positif yang seharusnya menjadi program kerja/kewajiban pemerintah itu dipublikasikan berdampingan dengan wajah-wajah bupati & wakil bupati yang masih aktif menjabat ?. Ketika 2010 adalah masa Pilkada Mojokerto, pesan dari incumbent tersebut berpotensi menarik banyak kesan, antara menjalankan program pemerintah atau berkampanye (terselubung dlm aktivitas pemerintahan) memperkenalkan diri ke masyarakat. Belum lagi jika kita mempertanyakan mengenai dana publikasi tersebut. Apakah dari kocek pribadi para incumbent itu atau dr APBD ? Nah lo. Jawab saya ya mei be yes or mei be no. Rakyat (saya) dibuat bingung. (more…)







